Sebenarnya apa agama saya?

Dari Catatan Seorang Agnostik, 13 September 2007…

It's a secret, dear

Saya kesal.

Saya lelah.

Kesal karena terus-menerus dihujani pertanyaan yang sama.

Yang bagi saya tidak ada gunanya.

Lelah karena pertanyaan itu seakan tidak ada akhirnya.

Sedari saya mendaftar di Perguruan Tinggi.

Melewati ujian masuk, seterusnya ke pendaftaran uang ulang.

Di ospek pun begitu, makrab tak ketinggalan pula.

Seterusnya kuliah perdana, dan kuliah-kuliah setelahnya.

Sebenarnya untuk apa kalian bertanya seperti itu?

“Agama kamu apa, sih?”

“Kamu agamanya apa ya?”

Saya kesal.

Saya lelah.

Memang, solusinya mudah.

Cukup saja katakan agama yang saya warisi dari orangtua anut.

Yang tertera sangat jelas di KTP saya.

Walau saya sebenarnya miris melihat kolom pencantuman agama.

Tapi tidak semudah itu.

Bagi saya jelas tidak mudah.

Saya sebenarnya bisa dan bangga menjawabnya.

Cuma ada satu masalah.

Mengapa agama yang saya anut harus ditanyakan segala?

Pentingkah itu?

Oh, lupakan.

Saya tidak menjawabnya dan hanya tersenyum simpul.

Lalu muncul beberapa spekulasi.

“Kamu Katholik ya?”

“Agama kamu Katholik?”

“Kamu pasti Kristen.”

“Hmnnn… Buddha?”

“Kamu Islam?”

“Kristen?”

Dan masih banyak lagi spekulasi.

“Kamu Konghuchu?”

Dan lagi, lagi seterusnya.

Saya tetap tidak menjawab, hanya bertanya balik.

“Darimana tebakan itu?”

Tebakan, ya, tebakan!

“Wajah kamu keliatan banget deh.”

Takjubnya, agama bisa ditebak dari fisik!

“Sifat dan sikap kamu kayaknya sih.”

Lagi, dari sifat dan sikap?

Saya tetap tidak menjawab.

Membiarkan mahasiswa seangkatan di fakultas tetap tidak mengetahuinya.

Agama itu di dalam diri saya.

Dan Tuhan lah yang saya sembah.

…dalam nama rozenesia~

Pindah ke: GunawanRudy.COM, sila klik di sini!