Jangan sepotong-sepotong juga dong, Pak!

Sepotong? Kue?
sudah, buat apa membicarakan yang lain

UPDATE: Ending ditambahkan…

PERINGATAN PENULIS: Kisah ini disadur dari kisah nyata belaka. Nama orang, lokasi, dan lain-lain telah disamarkan agar menjaga privasi.

Kisah kali ini disadur dari kisah nyata, jadi bukan karangan saya semata. Peringatan, agar nantinya tiada penyesalan, tulisan kali ini adalah curhat. Sekali lagi adalah curhat. Paham?

Baiklah, sekadar perkenalan tokoh terlebih dahulu.

Mahasiswa A, di sini kita singkat MA saja. Eits, bukan mahasiswa abadi, maksudnya. Mahasiswa aneh yang masuk ke beberapa kelas agama, baik diam-diam atau terang-terangan. Status agamanya masih belum diketahui oleh sebagian besar teman seangkatannya.

Dosen B, kita singkat DB saja. seorang dosen agama X yang mengajar di kelas MA. Dosen yang sangat-sangat mengutamakan disiplin, apalagi soal absensi dan keterlambatan masuk kelas.

Ada apa dengan kedua tokoh ini? Konflik kah?

***

Kelas Agama X, pertemuan pertama, Minggu kedua September…
Pembahasan mengenai apa itu agama.

DB: “Jika saya melakukan kekeliruan, jangan sungkan untuk mengkoreksi. Mengerti?”

MA:

Kelas Agama X, pertemuan kedua, Minggu ketiga September…
Pembahasan mengenai pemahaman mengenai agama X.

DB: Sekarang ini, banyak sekali umat-umat non-X yang melancarkan tuduhan kepada agama X hanya berdasarkan pemahaman yang sepotong-sepotong mengenai kitab suci X. Untuk itu, kita sebagai umat agama X haruslah mengkoreksi pemahaman mereka yang hanya sepotong-sepotong itu. Karena kitab suci bukanlah sesuatu yang bisa dipahami secara tekstual saja. Jika hanya secara tekstual, anak kecil pun bisa menjadi ahli agama.”

MA: “Jadi, menurut Bapak, tindakan apa yang sebaiknya dilakukan umat agama X jika umat non-X menyerang agama X dengan pemahaman mengenai agama X yang hanya sepotong-sepotong?”

DB: “Sebaiknya tak perlu saja, toh mereka juga nanti capek sendiri. Tapi jika sudah meresahkan banyak pihak, ada baiknya sebagai umat agama X yang baik, kita sebaiknya melakukan pengkoreksian atas tuduhan mereka. Bicara baik-baik dan berikan penjelasan kepada publik mengenai dajaran yang sebenarnya,”

MA:

Kelas Agama X, pertemuan ketiga, Minggu keempat September…
Pembahasan…

MA tidak masuk karena ada urusan mendadak di pulau lain.

Kelas Agama X, pertemuan keempat, Minggu pertama Oktober…
Pembahasan mengenai mengapa memilih agama X sebagai pedoman hidup.

DB: “Agama X adalah agama universal yang merupakan rahmat bagi alam semesta. Agama bagi seluruh umat manusia, tidak seperti agama Z yang khusus bagi bangsa M saja, atau juga agama Y. Di kitab suci agama Y sendiri juga ditegaskan bahwa agama itu hanya untuk bangsa M saja. ‘Tiada lain aku diutus selain kepada domba-domba yang tersesat dari bangsa M.’ Jadi agama X berbeda dengan kedua agama tersebut. Benar jika dikatakan agama X adalah untuk seluruh umat manusia.”

MA: “Pak, saya sedikit mengkoreksi. Ayat dari kitab suci yang bapak kutip tadi hanya sepotong saja. Jika dibaca keseluruhan, yang dimaksud bukan begitu. I hanya ingin menguji keimanan perempuan dari bangsa N. Disebut jelas dalam kelanjutan ayat tersebut. Jika bapak hanya mengutip sepotong-sepotong, yaitu bagian itu saja, maka maknanya akan melantur jauh dari yan dimaksudkan di kitab suci agama Y, Pak.”

DB: “Coba Anda jelaskan.”

MA: blablabla… *menjelaskan, disingkat saja, terlalu panjang*

DB: Jadi menurut Anda begitu?”

MA: Benar, Pak. Saya kebetulan juga sering membaca kitab suci Y. Bapak sendiri yang mengatakan bahwa jangan memahami kitab suci secara tekstual. Bapak juga bilang bahwa banyak umay non-X yang menyerang ajaran X hanya dengan pemahaman yang sepotong-sepotong. Tapi tadi bapak menjelaskan ke kami semua dengan hanya mengutip sepotong ayat dari agama Y yang maksudnya melantur jauh dari yang selengkapnya dijelaskan pada kitab suci agama Y. Jadi, jangan sepotong-sepotong juga dong, Pak!”

***

…dan curhat selesai. :twisted:

*kabur ke Sam Po Kong di Semarang setelah kontra dosen dan seisi kelas*

UPDATE!!!
Karena beberapa pihak penasaran akan ending dari kisah ini, maka…
Ah, endiangnya di luar dugaan, cukup biasa. DB berhasil mengendalikan keadaan dengan melontarkan beberapa pertanyaan kepada MA. Tanya jawab memakan waktu lebih kurang 10 menit dan akhirnya waktu untuk kelas agama berakhir. Menurut MA, gara-gara dijejali dengan seabrek pertanyaan yang sebagian besar diantaranya OOT, klarifikasinya mengenai pencomotan ayat yang sepotong-sepotong jadi seakan tertimbun.
Yak, selesai!

 

Pindah ke: GunawanRudy.COM, sila klik di sini!