Jogjakarta, 21 November 2007

Sebelumnya kumohon, masih adakah pembaca yang akan melontarkan suara sekenanya? Ini pertama kalinya aku memohon dalam tulisanku, hanya untuk kali ini saja…

eyes of the human being

“Whenever we want something from somebody or when we want to hide something or pretend, we’re acting. So I’m walking on my own path and show the others an universal experience, of fear, of anger, of tears, of love! The roles given to me by God and myself.”
Gunawan RudyThe Chronicle of Rozenesia

Sadarkah aku akan apa yang aku lakukan? Akan alasan mengapa aku melakuan apa yang aku lakukan? Tidakkah aku justru menari pada jalur yang terbentang di depanku ini? Dalam ketakutan, kemarahan, penderitaan, serta air mata? Atau dalam kegembiraan, keceriaan, anugerah, dan canda tawa?

Keraguan kadang menyerangku. Kebingungan merebut tahta dalam batinku. Aku terpaku dalam kenyataan dan mimpi, dalam fakta dan dusta. Kadang kupikir mengetahui sesuatu justru menyiksa diri, menyakitkan rasanya. Akankah ketidaktahuan justru membebaskanku? Ah, mungkin itu hanya utopia belaka, tapi mungkinkah aku bahagia jika kenyataan tetap tersembunyi rapi di balik topeng mereka?

Papa kini telah tiada. Kemanakah aku akan bertanya dan mengeluhkan semuanya? Mama? Mama sudah terlalu cukup untuk berduka, tak ingin kutambah lagi kedukaannya dengan keluh kesahku. Lalu, tiadakah lagi mercusuar di mana aku menyendiri dan berbicara tentang hidup dan langkahku? Hanya aku sendiri, menyendiri tanpa pegangan di belantara sandiwara umat manusia.

Menilik segala hantu-hantu sandiwara, aku teringat lagi pada ucapan Ellen, sahabatku. “Jika ingin berbohong, maka berbohong lah dengan sempurna. Agar kamu sebagai pembohong tidak kecewa, dan orang yang kamu bohongi tidak kecewa atas kebohonganmu.” Dan kini aku kembali mempertanyakan, apakah sandiwara umat manusia adalah bagian dari kebohongan, atau hakikat dari manusia itu sendiri? Atau kebohongan itu yang merupakan bagian dari sandiwara umat manusia yang berjalan pada jalurnya masing-masing?

“Most people have to act the roles given to them. Then again, most of them haven’t even noticed they’re acting.”
Delita HyralFinal Fantasy Tactics

Maaf, aku memang tidak bisa menjanjikanmu sebuah kenyataan yang elok, hanya ini yang bisa kulakukan dan kupersembahkan untukmu yang aku sayangi. Entah ini refleksi diriku, dirimu, atau malah mereka yang memainkan peran sebagai manusia. Rachel… Aku memang tidak pernah dan tidak akan tahu apa yang kamu rasakan, tapi kuharap kamu bisa mengerti apa yang aku sampaikan. Kutunggu balasmu.

PS: Kamu sudah membalas sebagai Pembuat Mimpi, terima kasih.

 

Pindah ke: GunawanRudy.COM, sila klik di sini!