engkaukah sang malaikat perindu?

Salib Perak

engkaukah sang malaikat perindu?

ah tuan, hasratku bertanya tentang kegundahan hati
yang terukir berkelok-kelok dalam untaian urat nadi
ingatkah tuan akan tuangan perasaan lewat dua puisi
untuk dirinya, kupersembahkan walau aku tak berani?

kuingin tuan tahu, betapa keringnya sungai jiwa ini
padahal dulu begitu elok, dihiasi bangau putih berseri
kini hanya tersisa torehan lumpur rindu yang tak berisi
di depan gubukku, gersang, lekang terbakar sinar mentari

satu dua tiga, terus begitu, tak berhenti menghitung hari
apa lagi yang aku miliki, selain tubuh berlapiskan seni?
ah, ujian ini belum berakhir, kucoba untuk bisa mengerti
walau selaksa pedang ankara tanpa henti menusuk nurani

adakah pula tuan mendapati ruhku yang berjalan melintasi pagi
di antara alang-alang, lewati rerumputan hingga pepohonan abadi?
dan jikalau tuan tak menyapa, tak mengapa ujar hati ini
mungkin burung-burung kecil pun tak tahu mengapa alam terasa mati

engkaukah sang malaikat perindu?
tertegun menatapku, dengan wajah pucat dan lidah kelu
engkaukah sang malaikat perindu?
menilik hidupku, hembuskan nafas rindu yang beku
engkaukah sang malaikat perindu?
kuulangi pertanyaan itu, pada engkau yang berwajah kelabu

langsung kubersimpuh, seakan takluk pada musuh tak bernyawa
dengan pengharapan turunnya ribuan kelopak mawar merah muda
tuk kupersembahkan padanya begitu bersua, namun apa mau dikata
daun-daun hutan pinus lah yang berserakan ditiup angin utara

wahai malaikat perindu, langit di timur terus memancarkan suatu aura
aku tahu samudera begitu luas membentang, dengan pulau-pulau di antaranya
tidak, tidak, tidak, lekukan luka di hati berhias rindu begitu susah kureka
haruskah aku menutup mata, menutup hati berselimut galau yang merekah penuh asa?

jawab, wahai malaikat perindu, puaskah engkau menghantui langkah anak manusia
tak terarah, penuh jejak pada jaring laba-laba, mencari cinta nun jauh di sana?
mungkinkah kisah hambar ini berakhir mesra layaknya dongeng ratu dan raja
atau musnah tanpa ada memori tentang kerinduan gila seorang pemuda?

(Gunawan Rudy / Li Xiang-ying, Juni 2007)

***

Ah, bukan apa-apa. Maafkan diriku yang sedang tidak mempunyai waktu untuk menulis. Aku sedang berada di antara ujian, tugas, dan rasa rindu kepada seseorang yang terpisah dua jam di sana… Hahahaaa… :lol:

Oh ya, jangan permasalahkan foto iseng itu. Sedang mencoba foto di depan cermin memakai ponsel murah yang butut kok. :P

UPDATE: Ditambahkan beberapa dialog mengenai foto dengan beberapa gadis sebagai narasumber… :roll:

***

rozenesia: Cis….
Dream Maker: =))
Dream Maker: Aku langsung konsen ke salib-nya, keren sih
rozenesia: :|
Dream Maker: Apalagi kalau warnanya hitam… =p`

***

Zazi:
Zazi: kok yang di poto hidungnya bang gun = =
rozenesia: Utamanya itu salibnya, sayang…
Zazi: ooooohhh
rozenesia: [-(
Zazi: tapi mataku entah nape tertuju sama idungnya bang gun = =
rozenesia: :|
Zazi: =))

***

Uchiha Miyu: komentar gue: untung ga ada kotoran higundnya.
Uchiha Miyu: *hidung
rozenesia: Woi… yang jelas ah. Pertama kali liat, bagian mana gitu -___-
Uchiha Miyu: sumpah, kalo misalx intix salib, agak ketengah dong
rozenesia: :|
rozenesia: Cis…
Uchiha Miyu: first impressiong: ‘Buset!’
Uchiha Miyu: *impression
Uchiha Miyu: no opens, mister :D

***

 

Pindah ke: GunawanRudy.COM, sila klik di sini!