Feeling of the Meager
“You’ll never know the feeling of the ‘Meager’.
You may think you know it, but you’ve never lived it!”
Wiegfraf Folles — Final Fantasy Tactics
Sebuah kutipan yang bagi saya cukup-cukup-cukup menohok saat saya memainkan game-nya semasa SMA dulu. Entah kenapa saya serasa tersadar hanya karena kutipan dari game ini.
Membuat saya berpikir, saya bisa mengatakan “Aku turut bersedih, aku tahu perasaanmu…” kepada orang yang sedang bersedih, karena saya kebetulan atau tidak, pernah mengalami peristiwa yang mirip dengannya. Namun jika saya mengatakan hal tersebut, namun saya tidak pernah mengalami peristiwa yang serupa atau lebih ekstrim lagi–tidak pernah bersedih… Oh, betapa kurang ajarnya saya!
Oh ya, sekadar info, Wiegfraf Folles adalah tokoh antagonis di game tersebut matinya pun cepat. Tapi entah kenapa kutipan-kutipan darinya selalu luar biasa.
.
.
.
PS: Apa mungkin kutipan di atas adalah jawaban saya akan masalah ini?
Pindah ke: GunawanRudy.COM, sila klik di sini!
Kopral Geddoe 02:10 on 11.08.2007 Permalink |
PERTAMAX
saya 02:11 on 11.08.2007 Permalink |
saya tahu rasanya pertamaxxx
Kopral Geddoe 02:12 on 11.08.2007 Permalink |
Ah, saya malah sempat jatuh hati pada adiknya, Miluda Folles…
*teringat kenangan memilukan dari kematian Miluda*
saya 02:13 on 11.08.2007 Permalink |
atau tidak….
*banting difo ampe mampus*
rozenesia 02:15 on 11.08.2007 Permalink |
@ Kopral Geddoe [1]: Sial, lupa blokir…
@ saya: Karena rasa adalah segalanya, bukan?
@ Kopral Geddoe [2]: Saya juga… Dialog antara Miluda dan Algus adalah salah satu yang terbaik…
rozenesia 02:16 on 11.08.2007 Permalink |
@ saya [2]: Cis…
saya 02:16 on 11.08.2007 Permalink |
hmm…gimana ya….apa yang dirasakan orang lain bukan urusan saya tentunya, dan kenapa kita harus merasakan sesuatu yang sama dengan orang lain kalo untuk itu kita harus menderita….
*melenceng yak..??*
intinya, saya setuju, tapi nggak ada salahnya kan kalo kita mengucapkan kata-kata dewa itu supaya seenggaknya kita bisa meringankan beban orang yang menderita itu karena dia tahu bahwa bukan dia satu-satunya yang menderita
*hunting FFT*
rozenesia 02:33 on 11.08.2007 Permalink |
@ saya: Heheheee… Intinya di sini menjaga perasaan. Kalau dialognya kayak di game itu, ya antara ksatria miskin dan para anak bangsawan…
hoek 02:40 on 11.08.2007 Permalink |
hoooo….
i see…i see…
tafi, meager itu artina afa?
hoek 02:41 on 11.08.2007 Permalink |
ah ya, roze? itu avatarmu salah yang mana?
“Avatar saya salahhhh!!”
???
hoek 02:41 on 11.08.2007 Permalink |
saia ndak lage mo hettrix ko, soale lage sog sibug…
rozenesia 02:47 on 11.08.2007 Permalink |
@ hoek: Melarat dan sejenisnya…
alle 03:05 on 11.08.2007 Permalink |
Wiegfraf Folles itu nyang mana yah??
rozenesia 03:07 on 11.08.2007 Permalink |
@ alle: Ah, muncul di awal-awal… Leader-nya Death Corps.
Xaliber (ngga di rumah) 03:16 on 11.08.2007 Permalink |
Kalau yang kaya mau ikutan jadi beneran miskin, IMO mau membangkitkan kekayaannya kembali juga susah. Mau membantu yang menengah ke bawah juga sulit.
Kayaknya golongan kaya yang benar peduli terhadap yang dibawahnya justru lebih efektif.
Btw, saya sudah benar2 lupa yang mana si Wiegraff… Yang saya ingat cuma si Ramza, Delita, sama yang diculik Delita + berantem di gereja itu.
Xaliber (ngga di rumah) 03:19 on 11.08.2007 Permalink |
Btw lagi, bukannya meagre?
Ngga yakin sih, jadi CMIIW. :p
rozenesia 03:25 on 11.08.2007 Permalink |
@ Xaliber (ngga di rumah) [1]: Aduuuuhh… Pimpinan Death Corps yang jadi Temple Knight… Berubah dengan zodiac stone Aries..
Cari aja di http://en.wikipedia.org/wiki/Characters_of_Final_Fantasy_Tactics
Nah, feedbacknya: Nah, intinya emang bagaimana menyalurkan kepedulian itu.
@ Xaliber (ngga di rumah) [2]: Ngasih link… http://en.wikiquote.org/wiki/Final_Fantasy_Tactics
Ehemn… Meagre yang di matematika?
Sesuai judul ‘terjemahan Enggres’ FFT, Prolognya adalah “The Meager”.
caplang™ 03:37 on 11.08.2007 Permalink |
empati emang ga bakal pernah berarti benar-benar mengalami
tapi saya akan terima kasih andai ada yg berempati thd saya
dan saya akan tetap melakukan sebaliknya thd orang lain
memang ga bakal sama…
Sawali Tuhusetya 03:57 on 11.08.2007 Permalink |
Ungkapan2 semacam itu apakah tidak memiliki konotasi terhadap kelompok2 yang merasa terpinggirkan akibat atmosfer kultul-sosial yang terjadi di tengah kehidupan masyarakat? Weleh3x Agaknya *halah* memang perlu ada desain kultur-sosial yang lebih egaliter dan demokratis. Dan itu harus dimulai dari sekarang agar tidak ada lagi kelompok yang terpinggirkan akibat dominasi kelompok mayoritas.
*OOT nggak ya??*
Hanna 04:07 on 11.08.2007 Permalink |
Gun, tulisannya pendek kali ini. Tapi, maaf, saya agak bingung. OOT nih.
Hanna 04:08 on 11.08.2007 Permalink |
Koment seriusnya menyusul ya, kalau saya dah memahami arti tulisan ini. Perlu renungan, he he he.
saya 04:12 on 11.08.2007 Permalink |
ahh ini merupakan salah satu teori politik yang digunakan rawls *kalo nggak salah*
teori politik dengan keadilan merata…
untuk menciptakan negara yang sejahtera, negara harus memberikan subsidi yang besarnya tergantung dari tingkat kesejahteraan rakyatnya sehingga nantinya akan lebih banyak menguntungkan rakyat yang tidak beruntung…
dan teori ini dibantai rame-rame sama semua pencetus teori politik dan sosiolog karena…
dengan melakukan hal itu, negara bukan sejahtera tapi akan bangkrut lebih cepat dan dengan itu juga berarti negara mematikan potensi yang dimiliki rakyatnya, terutama mereka yang memiliki keberuntungan…
teori ini disebut komunitarianisme … lebih condong ke keinginan untuk menaikkan taraf komunitas dengan solidaritas…
ini juga yang jadi alasan, kenapa yogya lebih cepat pulih daripada aceh…
*lha kok gw malah bahas politik ekonomi*
rozenesia 04:23 on 11.08.2007 Permalink |
@ caplang™: Empati, dengan tetap menjaga perasaan sang ‘terget’, tentunya ya.
@ Sawali Tuhusetya: Heheheheee… Nggak OOT kok pak. Untuk kelompok yang tersingkirkan terhadap mayoritas sendiri, tetpupuk paham untuk ‘tidak mempercayai mayoritas’. Maka dari itu Wiegraf Folles mengeluarkan sumpah serapah seperti yang saya kutip.
@ Hanna: Sip deh!!
@ saya: UTS ente sukses?
Baidewei, ente dapat mata kulaih Politik-Ekonomi semester berapa?
sigid (ndak login) 04:27 on 11.08.2007 Permalink |
Iya mas, orang lain tidak akan benar-benar bisa merasakan apa yang kita alami. Seperti kata om Caplang, empati memang tidak sama.
)
Namun, empati menunjukan kepedulian (atau kadang kelihatan peduli
Kepedulian (yang sejati) menurut saya merupakan bentuk lain dari kasih.
Seneng loh saya kalo ada orang lain yang peduli pada kita
rozenesia 04:30 on 11.08.2007 Permalink |
@ sigid (ndak login): Saya suka berempati (kadang, lho), dan saya ingin tujuan dari empati itu nggak disalahartikan.
Peace for all~ Nyahahaaa~
saya 04:34 on 11.08.2007 Permalink |
sukses dengan mengorbankan dua biji bolpen…busedh, uraian semua…
semester..??? apa itu…??
kan saya masih SMA mas…
rozenesia 04:41 on 11.08.2007 Permalink |
@ saya: Cis… PS, PIP, dan PIH ku… rata-rata 3-4 halaman semua…
Cis… SMA kepalamuuuu!!??
eMina 04:54 on 11.08.2007 Permalink |
tes dulu
rozenesia 04:56 on 11.08.2007 Permalink |
@ eMina: Tes apa?
eMina 05:10 on 11.08.2007 Permalink |
And how about “Feeling The Jealousy?”
Argh
BTT.
*tanpa mengartikan kutipannya*
Menurut saya sih, ga apa –apa klo kita bersimpati pada orang lain, apalagi pada sahabat atau orang –orang yang kita sayangi. Pada saat senang, atau terlebih saat dia merasa sedih. Tentunya bukan berniat untuk basa –basi saja, atau hanya omongan tanpa tujuan saja. Klo misalnya rasa simpati itu berasal jujur dari hati kita, saya rasa itu ga apa –apa. Mengapa harus merasa bersalah?
Jika kita merasa bersalah, ada kemungkinan kita tidak bersimpati secara tulus, mungkin hanya basa basi karena merasa bahwa dia adalah orang yang dekat dengan kita. Makanya, klo bisa, jangan hanya bersimpati, tapi lakukan action yang nyata untuk membantunya. Bersimpati itu hanya tindakan minimal saja.
Dan, tentu saja, simpati yang kita sampaikan pun harus sesuai kondisi. Jangan malah sok tahu padahal kita memang ga tahu apa –apa. Yang wajar saja. Saya yakin, kita tahu kapan saatnya kita harus bersimpati pada sahabat kita.
So, kata joey mcintyre, “believe in your self”
eMina 05:12 on 11.08.2007 Permalink |
waaaaaaaaa
mo hetrik kepotoooong
eMina 05:13 on 11.08.2007 Permalink |
gyahahaha..
bisa hetrik !!
saya 05:47 on 11.08.2007 Permalink |
@ eMina : kadang-kadang dengan kita mengatakan kita tahu penderitaan seseorang itu cuma akan membuat orang tersebut marah..
dan kadang-kadang diam adalah jalan yang baik meski bukan yang terbaik…
my quote, as always…
Luce 07:27 on 11.08.2007 Permalink |
ah, wa seh kaga peduli klo ada orang mati.
klo mati ya mati, selesai.
CY 08:19 on 11.08.2007 Permalink |
Cuehhh… ada yg ketularan Final Fantasy nih…
sigid 08:32 on 11.08.2007 Permalink |
@ saya
Mungkin harus lihat-lihat situasi juga ya, sama membuat kalimat yang lebih halus supaya kita ndak disangka sok tahu.
, tapi mungkin saja empati tidak harus dengan kata ya, bisa dengan yang lain.
Bingung juga sih menghadapi situasi seperti itu
Zazi 09:43 on 11.08.2007 Permalink |
aku lom maen FF tactics
Ravelt 09:52 on 11.08.2007 Permalink |
Fak main FFT, Tapi FFTA
FFT strorynya aku gak dong
Ravelt 09:53 on 11.08.2007 Permalink |
Ralat:
Tak main FFT, Tapi FFTA
FFT strorynya aku gak dong
cK 09:53 on 11.08.2007 Permalink |
hmm…intinya kalau belum pernah merasakan, berarti belum merasakan…
*silakan renungkan komen ini*
Ravelt 09:54 on 11.08.2007 Permalink |
YAY! Hetrik pertama di sini.. gehehehe
rozenesia 10:36 on 11.08.2007 Permalink |
@ eMina: Heheheeee… Bagi saya diam bisa termasuk empati. Semuanya kembali ke situasi dan kondisi juga. Nggak semuanya bisa diselesaikan dengan aksi, IMHO.
*sapu hettrik*
@ saya: Nah ini dia, semuanya menyesuaikan dengan keadaan, bukan?
@ Luce: Kalau Haruhi mati? Kalau Konata mati???

@ CY: Itu mah maenan zaman SMP – SMA, om…
FFT paling bagus, sumfahhh!!
@ sigid: Hihihiii… Memang ada banyak cara, mas.
@ Zazi: Maen sanaaa~ *tendang*
@ Ravelt: Hettrik kepotong cK…

Eh, story FFT kan emang termasuk paling rumit.
Mainnya politik…
@ cK: *merenung* …………….. *stress*
alex 10:38 on 11.08.2007 Permalink |
Dari game Final Fantasy?
FF itu ndak ada yang menariknya… selain Yuna
Zazi 10:40 on 11.08.2007 Permalink |
HWAKAKKAKA *ngakak gak ketulungan*
Ravelt 10:40 on 11.08.2007 Permalink |
Cih, lupa direfresh tadi -.-
Xaliber (ngga di rumah) 10:46 on 11.08.2007 Permalink |
@rozenesia:
IMO bangsawan yang peduli rakyat juga bagus punya, macam Bung Karno.
…dengan Marhaenisme?
Linknya dicek nanti ah… Net lambat sih.
Btw, setelah saya cek, ternyata benar meager menurut American-English. Meagre itu British-English.
@saya:
Padahal maksud saya lebih ke yang lain lho.
rozenesia 10:48 on 11.08.2007 Permalink |
@ alex: Ndak bisa, yang menarik dari FF adalah Miluda, Alma, Ovelia… (semuanya wanita di FFT)
@ Zazi: Kenapa, non?
@ Ravelt:
*tertawa melecehkan*
rozenesia 10:51 on 11.08.2007 Permalink |
@ Xaliber (ngga di rumah): Ah, secara FFT yang enggres memang untuk dirilis di AS sana.

…apa kepedulian yang diam-diam bagus ya… Oh, sayangnya saya tidak tahu.
Ah, Bung Karno sangat peduli rakyat, tapi…. di tiap daerah yang ia singgahi, ia pasti ‘merakyat’, terutama dengan wanita lokal.
Ravelt 11:40 on 11.08.2007 Permalink |
*Bejek2 yang sedang tertawa melecehkan*
rozenesia 11:44 on 11.08.2007 Permalink |
@ Ravelt: Minjem istilahnya brother Geddoe… *tertawa jumawa*
extremusmilitis 12:30 on 11.08.2007 Permalink |
*me-modifikasi*
saya tidak pernah mengalami peristiwa yang serupa atau lebih ekstrim lagi untuk apa saya mengalami-nya?
rozenesia 12:34 on 11.08.2007 Permalink |
@ extremusmilitis: Ahahahaaa… Benar juga…
niez sibuk tugas 12:55 on 11.08.2007 Permalink |
ya ya ya…aku tau perasaanmu…
*bah
Uchiha Miyu 12:57 on 11.08.2007 Permalink |
Mungkin bisa jadi jawaban yang tepat. But who knows?
rozenesia 12:59 on 11.08.2007 Permalink |
@ niez sibuk tugas:
@ Uchiha Miyu: Do you know my feeling?
Jangan bahas yang PS acho.
kamatari 13:49 on 11.08.2007 Permalink |
blow your mind, dude.
apa ni alasan kamu g ngerespon dikampus kmaren….??
kamatari 13:52 on 11.08.2007 Permalink |
plus 1 kalimat: thx ya! you have ‘it’…I know
Xaliber von Reginhild 13:56 on 11.08.2007 Permalink |
@rozenesia:
Meski sempat tergoda demokrasi terpimpin… Tapi Bung Karno tetap mantap.
Ngga apa-apa ah,
poligami kan halalan thayyiban
.IMO sih yang penting dalam mengurus negaranya itu yang benar utama.
saRe' yang sedang kesal 13:59 on 11.08.2007 Permalink |
hmmm
jadi ga ngerti,.
ga pernah maen FF tactics,
iya tuh, kita mana pernah bisa ngerti apa perasaan orang, setiap orang kan berdiri pada posisi yang berbeda, gimana caranya 2 orang bisa disana dalam waktu dan tempat yang sama?? *lho? kok jadi inget diagram cartesius*
A (cewek) : waduh, sakit perut nih…
B (cowok) : wah, aku tau rasanya. pasti ga enak..
A : tau apanya?! aku PMS tau’!
….
itu contoh nyatanya
kamatari 14:06 on 11.08.2007 Permalink |
lupa bilang tadi.knapa kamu ga sekalian ceritain soal tokoh wiegraf itu aja??
kan lumayan kalo bisa diambil filosofi2nya. halaaah
Xaliber von Reginhild 14:08 on 11.08.2007 Permalink |
Ah, sekedar meng-clear-kan, bahwasanya saya bukan pro poligami… daripada muncul hal-hal yang tidak diinginkan…
*untungnya saya belum begitu terkenal sih
*
mardun 18:22 on 11.08.2007 Permalink |
pokoknya yang paling keren dari Final Fantasy cuma Sephiroth
goop 03:51 on 11.09.2007 Permalink |
Sebelum ini saya berfikir, bahwa berkata “aku tahu perasaanmu” akan memberikan manfaat
Tapi lama-lama ko merasa jadi sok tau ya?? Benar apalagi kalo belum pernah mengalami.
Mungkin sebaiknya ngeliat2 dulu kali, siapa lawan bicara kita yg menerima kata
ampuhitu.Hingga ada kalanya kata itu terucap, namun tak jarang cukuplah hanya diam dan mendengar
p4ndu_454kura 04:59 on 11.09.2007 Permalink |
Ga faham FF Tactics. Terlalu sibuk jualan rune.
p4ndu_454kura 05:04 on 11.09.2007 Permalink |
Ga setuju. Saya masih suka ama Cloud Strife aka Squall.
Mihael "D.B." Ellinsworth 07:12 on 11.09.2007 Permalink |
Tunggu, seperti ini mencerminkan diriku, dirimu, dan teman – temanku. Tuanku….
danalingga 09:04 on 11.09.2007 Permalink |
Mungkin memang hanya orang yang mengalaminya saja yang mengerti sepenuhnya.
dreamcreator 11:27 on 11.10.2007 Permalink |
Pap, ini apa hubungannya sama yang waktu itu?
[completely clueless]
Dream Maker 11:30 on 11.10.2007 Permalink |
si-sial T_T lupa logout setelah edit FanFic T_T
almascatie 15:25 on 11.10.2007 Permalink |
gamenya gimana yah
Dimas 04:24 on 11.11.2007 Permalink |
sayah gak pernah maen game, gak bakat
salam kenal dari sayah
Kurt 01:52 on 11.12.2007 Permalink |
“Betapa kurang ajarnya saya”
Duuh apalagi saya boro2 ngerasain kesedihan, komentar doang gak ngerti dunia pergamean..
rozenesia 03:31 on 11.12.2007 Permalink |
@ kamatari [1]: You have my words, milady.
@ kamatari [2]: Sama-sama, apa aksiku di sini bisa buat kamu lebih ceria?
@ Xaliber von Reginhild [1]: Sayangnya sejak zaman dulu, tolak ukur kepemimpinan itu salah satunya di moral. Banyak raja yang jatuh karena masalah moral, lho.
@ saRe’ yang sedang kesal: Contoh yang bagus, sayang…
@ kamatari [3]: Sabar, nanti ya. Makasih usulnya.
@ Xaliber von Reginhild [2]: *catet buat karakter asinan*
@ mardun: Ndak bisahh!!
@ goop: Yup, ada banyak cara untuk menghadapi masalah yang sedang diderita oleh sesama.
@ p4ndu_454kura [1]: FFT? Konspirasi agama nih game.
@ p4ndu_454kura: What!? Cowok-cowok sok cool sok dingin sok keren itu!!??
@ Mihael “D.B.” Ellinsworth: Maksudnya?
@ danalingga: Memang kan?
@ dreamcreator: Ada kok.
@ Dream Maker:
@ almascatie: Di PSP juga rilis kok om.
@ Dimas: Game ga perlu bakat ah. Salam kenal juga.
@ Kurt: Ahahaaa… Iya juga ya. Tapi game tetap universal!! All hail gameee!!
Dream Maker 13:59 on 11.13.2007 Permalink |
apa situ ketawa-ketawa -_-
kayaknya ga ada deh, kasih tau dong
lagi gak bias mikir… [kayak pernah mikir ajah]
eh OOT bentar, maksudnya ‘karakter asinan’ itu apa yah? Soalnya sebetulan saya teringat dengan karakter kesayangan saya~
rozenesia 08:46 on 11.14.2007 Permalink |
@ Dream Maker: Coba dijamah lagi~
Assasination.
Abu Onta Al-Lesehanhallalantayyibanny « r o z e n e s i a 12:04 on 11.18.2007 Permalink |
[...] ketika melirik lagi komentar dari Xaliber, yaitu di sini, saya mendapatkan perbendaharaan kata baru, yaitu “halalan thayyiban”, tapi kok saya [...]
William Clive 16:16 on 11.29.2007 Permalink |
okay-okay…memang benar kita memang tidak bisa merasakan derita orang lain secara langsung.
kita hanya bisa berandai jika kita berada dalam posisinya,namun sehebat apapun imajinasi kita atas keadaan dan sebesar apapun rasa empati itu, tetap saja kita tidak akan bisa merasakan benar2 sperti perasaan yang sesungguhnya.kecuali,mungkin kita pernah merasakan hal yang sama.(walaupun tetap saja beda lelaki yang baru ditolak sekali sama cewek mungkin kurang bisa mengerti sahabatnya yang 5 x ditolak cewek,hahahaha)
well,’meager’ disitu bagiku punya banyak arti….
namun sadarkah kita jika kita meragukan ketulusan orang yang mengatakan ’saya mengerti perasaanmu’ , we’re bein such…really don’t have explanation for this…
lalu apakah ketika teman kita mengalami musibah yang…kita hanya diam saja?dan apakah ketika kita mengalami musibah yang…dan ada seorang sahabat atau orang lewat yang mengatakan demikan,kita tanggapi dengan dingin?
paling tidak kita harus berusaha memberikan sebuah ‘consolation’ bagi seorang sahabat atau sesama manusia,dan mencoba menghargai niat orang lain untuk memberikan ‘condolences or consolation towards our condition’
saat ujian kenaikan tingkat saya sempat kolaps karena kaki saya cedera,seorang pimpinan dojo lain yang kebetulan ‘bersebrangan’ dengan dojo tempat saya berlatih memberikan pertolongan pertama yang salah,beliau mengira saya kekurangan oksigen dan memberi saya tabung oksigen.seorang sahabat saya (kebetulan kedokteran)yang kebetulan punya masalah interpersonal dengan beliau menanggapinya dengan sinis seusai latihan…ya, tabung oksigen dengan kaki yang cedera memang tidak ada hubungannya tapi paling tidak niat beliau untuk menolong orang dari dojo yang ‘bersebrangan’ pantas dihargai,walaupun mungkin beliau punya ‘ulterior motive’ di depan penguji….tulus tidaknya niat,hanya Tuhan yang tahu…
sekarang,yah mungkin agak keterlaluan…orang yang tidak bisa menghargai niat tulus dari orang lain, tidak pantas bicara tentang cinta…
masalah Wiegraf,ya…karakter antagonis favoritku.
perilakunya seperti anak kecil yang berteriak atas ketidak-adilan dunia,putus-asa atas semuanya dan sadar untuk merubah semuanya butuh kekuatan di luar manusia…dia mendapat kekuatan tersebut,tapi ya..dia kehilangan dirinya secara perlahan…sampai dia kehilangan diri sebagai manusia
yea…somehow i see a part of myself in him…well, despair, inferiority and effort to have a pride to act as a man trying to fight injustice…hahaha,now i speak highly of myself…
i think believers of god and devil have the same type of faith hahahaha.
i do believe even a person with highest level of consciousness aware that he or she has no control towards their own will…
naw,said too much already.hope you don’t mind…buh bye…
rozenesia 20:29 on 12.07.2007 Permalink |
@ William Clive: GRAHHH!!! Panjang tauk, senpai!!
Oke, tanggapin sedikit dulu.
Orang yang sedang down, bersedin, under-pressure dan sebenarnya sulit berpikir jernih, dan tentu semuanya beda reaksi, karena kadang akal jernih nggak dipake lagi.
Karena wanita ingin dimengerti… « all hail rozenesia™ 19:35 on 12.14.2007 Permalink |
[...] hiperbolik, dan lain-lain, tetap saja tidak mudah untuk dimengerti begitu saja. Kita tentu tidak bisa mengetahui apa yang ada di benak orang lain bukan? Apakah ia mencurahkan semuanya ke dalam curhat, siapa yang tahu di balik itu ia sedang [...]
Identitas Diri dan Pelarian « Deathlock 17:09 on 12.21.2007 Permalink |
[...] masalah itu, manusia merasa tidak nyaman. Tidak betah, tidak ingin bertemu dengan masalah itu. Ingin segera menyingkirkannya; dengan [...]
I Have Lost My Religion « all hail rozenesia™ 18:31 on 12.28.2007 Permalink |
[...] mulai gundah lagi. Gundah dan kecewa akan sebuah empati yang buta. Apakah aku tak menghargainya? Aku tak tahu. Bercelotehlah sesukamu, dan matilah aku! Walau [...]