I Have Lost My religion
At any rate, it seems I have lost my religion.

Kuharap kalian mengerti kawan, ini hanya sekelumit cerita dariku, yang kini menuju hari kematian sebuah buku. Kumohon, mengertilah…

Mazmur 88

88:1 Nyanyian. Mazmur bani Korah. Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Mahalat Leanot. Nyanyian pengajaran Heman, orang Ezrahi. (88-2) Ya TUHAN, Allah yang menyelamatkan aku, siang hari aku berseru-seru, pada waktu malam aku menghadap Engkau.

88:2 (88-3) Biarlah doaku datang ke hadapan-Mu, sendengkanlah telinga-Mu kepada teriakku;

88:3 (88-4) sebab jiwaku kenyang dengan malapetaka, dan hidupku sudah dekat dunia orang mati.

88:4 (88-5) Aku telah dianggap termasuk orang-orang yang turun ke liang kubur; aku seperti orang yang tidak berkekuatan.

88:5 (88-6) Aku harus tinggal di antara orang-orang mati, seperti orang-orang yang mati dibunuh, terbaring dalam kubur, yang tidak Kauingat lagi, sebab mereka terputus dari kuasa-Mu.

88:6 (88-7) Telah Kautaruh aku dalam liang kubur yang paling bawah, dalam kegelapan, dalam tempat yang dalam.

88:7 (88-8) Aku tertekan oleh panas murka-Mu, dan segala pecahan ombak-Mu Kautindihkan kepadaku. Sela

88:8 (88-9) Telah Kaujauhkan kenalan-kenalanku dari padaku, telah Kaubuat aku menjadi kekejian bagi mereka. Aku tertahan dan tidak dapat keluar;

88:9 (88-10) mataku merana karena sengsara. Aku telah berseru kepada-Mu, ya TUHAN, sepanjang hari, telah mengulurkan tanganku kepada-Mu.

88:10 (88-11) Apakah Kaulakukan keajaiban bagi orang-orang mati? Masakan arwah bangkit untuk bersyukur kepada-Mu? Sela

88:11 (88-12) Dapatkah kasih-Mu diberitakan di dalam kubur, dan kesetiaan-Mu di tempat kebinasaan?

88:12 (88-13) Diketahui orangkah keajaiban-keajaiban-Mu dalam kegelapan, dan keadilan-Mu di negeri segala lupa?

88:13 (88-14) Tetapi aku ini, ya TUHAN, kepada-Mu aku berteriak minta tolong, dan pada waktu pagi doaku datang ke hadapan-Mu.

88:14 (88-15) Mengapa, ya TUHAN, Kaubuang aku, Kausembunyikan wajah-Mu dari padaku?

88:15 (88-16) Aku tertindas dan menjadi inceran maut sejak kecil, aku telah menanggung kengerian dari pada-Mu, aku putus asa.

88:16 (88-17) Kehangatan murka-Mu menimpa aku, kedahsyatan-Mu membungkamkan aku,

88:17 (88-18) mengelilingi aku seperti air banjir sepanjang hari, mengepung aku serentak.

88:18 (88-19) Telah Kaujauhkan dari padaku sahabat dan teman, kenalan-kenalanku adalah kegelapan.

12 September 2007, aku memulai hidupku, setelah reinkarnasi yang menyebabkan bulu kudukku berdiri. “Halo dunia!” ucapku kali itu. dihiasi dengan sambutan hangat dari banyak malaikat. Aku yakin eksistensiku diliputi kasih dan berkat. Dan aku mulai berpikir ke mana aku akan melangkah.

Agama? Agama? Aku mulai memikirkan kegundahan hatiku kala manusia bertanya kepadaku, apakah agama yang melekat dalam jiwa dan ragaku? Sebenarnya apa agama yang aku anut? Ah, kebingungan dan kegundahanku kala itu melahirkan sebuah tulisan yang mungkin pantas kutahbiskan sebagai sajak. Apakah aku yakin dengan ini semua? Waktu belum menjawab, ujarku.

Aku pun terjebak lagi dalam derasnya arus agama. Kala itu memasuki bulan puasa, dan betapa kecewanya aku melihat pemerintah di provinsi yang terletak di sebelah utara Pulau Jawa memberlakukan peraturan daerah yang serasa menyesakkan dada. Maka lahirlah sebuah surat yang menyoroti penguasa di sana. Mungkin saja beberapa pembaca menilai aku melakukan aksi pukul rata. Tapi tidak, nyatanya. Aku hanya ingin menyampaikan rasa yang berkecamuk dalam diriku mengenai daerah nun jauh di sana.

Maka sampailah ruhku pada tanggal 22 September 2007, hari di mana papa yang kucintai meregang nyawa. Maaf, aku tak sanggup berkata apa-apa kali ini… Maaf…

Bulan Oktober pun tiba. Sepuluh hari setelah papa berpulang, ruhku kembali ke buku ini. Aku hanya ingin menegaskan bahwa apa yang kutulis di sini hanyalah curahan hati. Tapi apakah aku menyimpan maksud tersembunyi? Mungkin ya.

Sekali lagi, mungkin benar jika aku dituduh mengangkat agama. Kali ini aku bercerita mengenai seorang dosen. Ah, tak pantas kuuingkit lagi rasanya cerita lama ini. Cukup banyak kenangan buruk akan sebuah toleransi di sini. Aku lelah.

Aku mulai terbangun dari buaian mimpi agama, diriku terbang ke dalam lingkaran setan akan sebuah konflik sosial di negeri ini. Dimulai dari sebuah hakikat identitas, diriku yang berada antara duniawi dan rohani, hingga menyoal politik dan sejarah kelam, beserta pengaruhnya kini.

Lalu? Apakah benar aku terjebak dalam cinta seperti yang dituturkan oleh selembar sajak rindu dan sekelumit dialog mesra? Aku tak tahu mengapa, hanya saja aku rasa aku menulis sesuka diriku melangkah di jalanan tanpa ujung.

Aku mulai gundah lagi. Gundah dan kecewa akan sebuah empati yang buta. Apakah aku tak menghargainya? Aku tak tahu. Bercelotehlah sesukamu, dan matilah aku! Walau setelahnya aku diterbangkan dalam hakikat tubuh wanita.

Aku jatuh kembali! Aku larut dalam sebuah arus yang tengah berkecamuk di dunia maya ini. maka aku pun hendak berteriak, apakah masalah ini pantas dilempar kemana-mana? Mungkin jawab yang kuterima hanya kilahan saja, tapi aku tak yakin akan tulusnya. Walau begitu, aku tetap ingin percaya.

Dan aku menggila, mengganti nama untuk sementara, menumpahkan kekesalan akibat ketidakmampuanku dalam melafalkan kata-kata. Hingga diriku yang kecewa akan ketidakseriusan pemerintah dalam mengelola penikmat media, dan aku pun menggila!

Apa aku sadar rasa sayangku telah melahirkan sebuah tulisan akan motivasi? Atau justru persuasi? Sugesti? Entah, aku tak tahu. Aku terdiam dalam kesunyian.

Nopember berlalu dan Desember menyambut. Bulan di mana aku menulis dan menulis dengan gilanya. Apa yang harus ditanyakan dengan studiku? Puaskah dirimu jika mengetahuinya? Aku terdiam hingga aku melahirkan mahakarya terbesar pada buku ini, pikirku. Ini bukan sekadar analogi sederhana. Bukan cuma analogi antara wanita dan penulis belaka. Aku menyoal budaya dan juga agama, harap kamu tahu semuanya. Tapi apa yang kudapat? Tak semua dari kamu bisa mengungkap semua yang ingin aku sampaikan. Tapi tak apalah, aku tak kecewa.

Mungkin pembaca mengira aku mulai terjebak pada agama lagi saat aku mulai menyoroti kabar burung akan sebuah misi agama. Tapi itu tak sepenuhnya benar, karena tulisan sebelum ini nyata-nyata secara tersirat menyinggung agama, walau kulihat belum ada yang melihatnya.

Sekadar penghibur belaka, aku kembali berkata, “Halo dunia!“. Aku tertawa.

Dan nyatanya setelah itu aku terjebak dalam agama. Lagi-lagi agama dan aku muak. Aku mulai dari apa yang kurasa, lalu sekadar selingan tewas untuk menjebak para pembaca cepat, di mana esok harinya aku meluruskan kesalahpahaman akan kitab suci. Dan puncaknya ketika aku muak akan perang di dunia maya. Aku berdialog dengan diriku yang satu lagi. Yang terpendam dalam diriku. Palsu, asli, atau bagaimana? Aku belum tahu akan kenyataan itu.

Aku kembali tenang saat menyampaikan pesan akan indahnya kebersamaan dalam damai. Kuharap ada banyak pembaca yang bisa meresapi dan menilai pesanku. Semoga.

Lalu ketika aku menyoroti fenomena sosial akan benci dan dendam, sebuah lingkaran setan saling menyalahkan yang tiada ujungnya, aku dinilai kembali gila agama! Ah, aku kecewa. Contoh yang kuangkat memang agama, tapi yang kumaksudkan adalah fenomena tiada yang mengalah. Sungguh aku kecewa.

Dari situlah aku berpikir untuk membumihanguskan buku ini. Menghapus sekelumit ceritaku di sini. Dan aku mulai bertanya. Bagaimana hasilnya? Tidak terjadi. Tidak akan terjadi, ujarku kala itu. Sebelum semua ini terjadi…

Mungkin pertemuan itu hanya selingan belaka. Delapan itu juga demikian. Sampai akhirnya aku kembali hancur. Aku hancur lagi.

Aku, yang berusaha mengembalikan jiwaku yang tenggelam dalam samudera arus utama, kini hanya bisa meratapi hilangnya jiwa itu. Jiwa itu terbakar dengan hebatnya hanya karena sulutan api dari sebatang korek api kecil, yang malangnya menyala saat genangan minyak sisa kebakaran yang hampir tak terlihat terdahulu belum kering benar.

Adakah air yang sanggup memadamkannya? Menghitung detik demi detik menuju penghujung tahun, di mana lenyaplah eksistensi buku pikirku.

…dan aku masih menunggu datangnya Sang Juruselamat.

.
.
.

May God be with you, He’s no longer with me. Amen.

 

Pindah ke: GunawanRudy.COM, sila klik di sini!