
At any rate, it seems I have lost my religion.
Kuharap kalian mengerti kawan, ini hanya sekelumit cerita dariku, yang kini menuju hari kematian sebuah buku. Kumohon, mengertilah…
Mazmur 88
88:1 Nyanyian. Mazmur bani Korah. Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Mahalat Leanot. Nyanyian pengajaran Heman, orang Ezrahi. (88-2) Ya TUHAN, Allah yang menyelamatkan aku, siang hari aku berseru-seru, pada waktu malam aku menghadap Engkau.
88:2 (88-3) Biarlah doaku datang ke hadapan-Mu, sendengkanlah telinga-Mu kepada teriakku;
88:3 (88-4) sebab jiwaku kenyang dengan malapetaka, dan hidupku sudah dekat dunia orang mati.
88:4 (88-5) Aku telah dianggap termasuk orang-orang yang turun ke liang kubur; aku seperti orang yang tidak berkekuatan.
88:5 (88-6) Aku harus tinggal di antara orang-orang mati, seperti orang-orang yang mati dibunuh, terbaring dalam kubur, yang tidak Kauingat lagi, sebab mereka terputus dari kuasa-Mu.
88:6 (88-7) Telah Kautaruh aku dalam liang kubur yang paling bawah, dalam kegelapan, dalam tempat yang dalam.
88:7 (88-8) Aku tertekan oleh panas murka-Mu, dan segala pecahan ombak-Mu Kautindihkan kepadaku. Sela
88:8 (88-9) Telah Kaujauhkan kenalan-kenalanku dari padaku, telah Kaubuat aku menjadi kekejian bagi mereka. Aku tertahan dan tidak dapat keluar;
88:9 (88-10) mataku merana karena sengsara. Aku telah berseru kepada-Mu, ya TUHAN, sepanjang hari, telah mengulurkan tanganku kepada-Mu.
88:10 (88-11) Apakah Kaulakukan keajaiban bagi orang-orang mati? Masakan arwah bangkit untuk bersyukur kepada-Mu? Sela
88:11 (88-12) Dapatkah kasih-Mu diberitakan di dalam kubur, dan kesetiaan-Mu di tempat kebinasaan?
88:12 (88-13) Diketahui orangkah keajaiban-keajaiban-Mu dalam kegelapan, dan keadilan-Mu di negeri segala lupa?
88:13 (88-14) Tetapi aku ini, ya TUHAN, kepada-Mu aku berteriak minta tolong, dan pada waktu pagi doaku datang ke hadapan-Mu.
88:14 (88-15) Mengapa, ya TUHAN, Kaubuang aku, Kausembunyikan wajah-Mu dari padaku?
88:15 (88-16) Aku tertindas dan menjadi inceran maut sejak kecil, aku telah menanggung kengerian dari pada-Mu, aku putus asa.
88:16 (88-17) Kehangatan murka-Mu menimpa aku, kedahsyatan-Mu membungkamkan aku,
88:17 (88-18) mengelilingi aku seperti air banjir sepanjang hari, mengepung aku serentak.
88:18 (88-19) Telah Kaujauhkan dari padaku sahabat dan teman, kenalan-kenalanku adalah kegelapan.
12 September 2007, aku memulai hidupku, setelah reinkarnasi yang menyebabkan bulu kudukku berdiri. “Halo dunia!” ucapku kali itu. dihiasi dengan sambutan hangat dari banyak malaikat. Aku yakin eksistensiku diliputi kasih dan berkat. Dan aku mulai berpikir ke mana aku akan melangkah.
Agama? Agama? Aku mulai memikirkan kegundahan hatiku kala manusia bertanya kepadaku, apakah agama yang melekat dalam jiwa dan ragaku? Sebenarnya apa agama yang aku anut? Ah, kebingungan dan kegundahanku kala itu melahirkan sebuah tulisan yang mungkin pantas kutahbiskan sebagai sajak. Apakah aku yakin dengan ini semua? Waktu belum menjawab, ujarku.
Aku pun terjebak lagi dalam derasnya arus agama. Kala itu memasuki bulan puasa, dan betapa kecewanya aku melihat pemerintah di provinsi yang terletak di sebelah utara Pulau Jawa memberlakukan peraturan daerah yang serasa menyesakkan dada. Maka lahirlah sebuah surat yang menyoroti penguasa di sana. Mungkin saja beberapa pembaca menilai aku melakukan aksi pukul rata. Tapi tidak, nyatanya. Aku hanya ingin menyampaikan rasa yang berkecamuk dalam diriku mengenai daerah nun jauh di sana.
Maka sampailah ruhku pada tanggal 22 September 2007, hari di mana papa yang kucintai meregang nyawa. Maaf, aku tak sanggup berkata apa-apa kali ini… Maaf…
Bulan Oktober pun tiba. Sepuluh hari setelah papa berpulang, ruhku kembali ke buku ini. Aku hanya ingin menegaskan bahwa apa yang kutulis di sini hanyalah curahan hati. Tapi apakah aku menyimpan maksud tersembunyi? Mungkin ya.
Sekali lagi, mungkin benar jika aku dituduh mengangkat agama. Kali ini aku bercerita mengenai seorang dosen. Ah, tak pantas kuuingkit lagi rasanya cerita lama ini. Cukup banyak kenangan buruk akan sebuah toleransi di sini. Aku lelah.
Aku mulai terbangun dari buaian mimpi agama, diriku terbang ke dalam lingkaran setan akan sebuah konflik sosial di negeri ini. Dimulai dari sebuah hakikat identitas, diriku yang berada antara duniawi dan rohani, hingga menyoal politik dan sejarah kelam, beserta pengaruhnya kini.
Lalu? Apakah benar aku terjebak dalam cinta seperti yang dituturkan oleh selembar sajak rindu dan sekelumit dialog mesra? Aku tak tahu mengapa, hanya saja aku rasa aku menulis sesuka diriku melangkah di jalanan tanpa ujung.
Aku mulai gundah lagi. Gundah dan kecewa akan sebuah empati yang buta. Apakah aku tak menghargainya? Aku tak tahu. Bercelotehlah sesukamu, dan matilah aku! Walau setelahnya aku diterbangkan dalam hakikat tubuh wanita.
Aku jatuh kembali! Aku larut dalam sebuah arus yang tengah berkecamuk di dunia maya ini. maka aku pun hendak berteriak, apakah masalah ini pantas dilempar kemana-mana? Mungkin jawab yang kuterima hanya kilahan saja, tapi aku tak yakin akan tulusnya. Walau begitu, aku tetap ingin percaya.
Dan aku menggila, mengganti nama untuk sementara, menumpahkan kekesalan akibat ketidakmampuanku dalam melafalkan kata-kata. Hingga diriku yang kecewa akan ketidakseriusan pemerintah dalam mengelola penikmat media, dan aku pun menggila!
Apa aku sadar rasa sayangku telah melahirkan sebuah tulisan akan motivasi? Atau justru persuasi? Sugesti? Entah, aku tak tahu. Aku terdiam dalam kesunyian.
Nopember berlalu dan Desember menyambut. Bulan di mana aku menulis dan menulis dengan gilanya. Apa yang harus ditanyakan dengan studiku? Puaskah dirimu jika mengetahuinya? Aku terdiam hingga aku melahirkan mahakarya terbesar pada buku ini, pikirku. Ini bukan sekadar analogi sederhana. Bukan cuma analogi antara wanita dan penulis belaka. Aku menyoal budaya dan juga agama, harap kamu tahu semuanya. Tapi apa yang kudapat? Tak semua dari kamu bisa mengungkap semua yang ingin aku sampaikan. Tapi tak apalah, aku tak kecewa.
Mungkin pembaca mengira aku mulai terjebak pada agama lagi saat aku mulai menyoroti kabar burung akan sebuah misi agama. Tapi itu tak sepenuhnya benar, karena tulisan sebelum ini nyata-nyata secara tersirat menyinggung agama, walau kulihat belum ada yang melihatnya.
Sekadar penghibur belaka, aku kembali berkata, “Halo dunia!“. Aku tertawa.
Dan nyatanya setelah itu aku terjebak dalam agama. Lagi-lagi agama dan aku muak. Aku mulai dari apa yang kurasa, lalu sekadar selingan tewas untuk menjebak para pembaca cepat, di mana esok harinya aku meluruskan kesalahpahaman akan kitab suci. Dan puncaknya ketika aku muak akan perang di dunia maya. Aku berdialog dengan diriku yang satu lagi. Yang terpendam dalam diriku. Palsu, asli, atau bagaimana? Aku belum tahu akan kenyataan itu.
Aku kembali tenang saat menyampaikan pesan akan indahnya kebersamaan dalam damai. Kuharap ada banyak pembaca yang bisa meresapi dan menilai pesanku. Semoga.
Lalu ketika aku menyoroti fenomena sosial akan benci dan dendam, sebuah lingkaran setan saling menyalahkan yang tiada ujungnya, aku dinilai kembali gila agama! Ah, aku kecewa. Contoh yang kuangkat memang agama, tapi yang kumaksudkan adalah fenomena tiada yang mengalah. Sungguh aku kecewa.
Dari situlah aku berpikir untuk membumihanguskan buku ini. Menghapus sekelumit ceritaku di sini. Dan aku mulai bertanya. Bagaimana hasilnya? Tidak terjadi. Tidak akan terjadi, ujarku kala itu. Sebelum semua ini terjadi…
Mungkin pertemuan itu hanya selingan belaka. Delapan itu juga demikian. Sampai akhirnya aku kembali hancur. Aku hancur lagi.
Aku, yang berusaha mengembalikan jiwaku yang tenggelam dalam samudera arus utama, kini hanya bisa meratapi hilangnya jiwa itu. Jiwa itu terbakar dengan hebatnya hanya karena sulutan api dari sebatang korek api kecil, yang malangnya menyala saat genangan minyak sisa kebakaran yang hampir tak terlihat terdahulu belum kering benar.
Adakah air yang sanggup memadamkannya? Menghitung detik demi detik menuju penghujung tahun, di mana lenyaplah eksistensi buku pikirku.
…dan aku masih menunggu datangnya Sang Juruselamat.
.
.
.
May God be with you, He’s no longer with me. Amen.
Pindah ke: GunawanRudy.COM, sila klik di sini!
+
aRuL 18:32 on 12.28.2007 Permalink |
ooo ini kaleidoskop yah?
Mrs.Neo Fortynine 18:33 on 12.28.2007 Permalink |
eh…eh…eh… mau kemana ini?
Mrs.Neo Fortynine 18:35 on 12.28.2007 Permalink |
duuuuh… serius ini…
duuuh…
apa/siapa api?apa/siapa korek api kecil?
Nak?Nak?Nak?
jangan bilang kau akan mati lagi…
Payjo 18:35 on 12.28.2007 Permalink |
Beuh, kaleidoskop 2007 yang keren
aRuL 18:36 on 12.28.2007 Permalink |
Semoga 2008nya semakin banyak tulisan2 mencerahkan
*eh saya tadi pertamax yah? ugh… beruntung banget bisa pertamax di sini*
aRuL 18:38 on 12.28.2007 Permalink |
leh mo mati?
koq sama dengan temanmu itu jugak?
niez 18:42 on 12.28.2007 Permalink |
hmm…kaleidoskop yah ??
Praditya 19:00 on 12.28.2007 Permalink |
Kenapa lagi ini Gun?
abee 19:48 on 12.28.2007 Permalink |
hebat, gun kaleidoskopmu dibikin semenarik ini….kalok punyaku cuman list ajah
zal 19:59 on 12.28.2007 Permalink |
::runtut Mazmur yg apik, runtut dari bentuk pengalaman bangkit dari kubur atas nama rozenesia, “hakikat wanita” pemendam rasa yang huaalus buuanget, untung rozenesia merintih keras ya
hmmm librarynya juga ok, kamu udah sepatutnya menjadi “pengembala” Gun.., (eh, apa perlu empaty itu…) he..he terjebak dalam pengenalan “agama” lagi…, lha mau disebut apalagi namanya…
Xaliber von Reginhild 20:00 on 12.28.2007 Permalink |
Untuk kaleidoskopnya sendiri, formatnya cukup menarik… bagus.
Sementara untuk yang lainnya, entahlah. Karena keputusan terbesar berada pada diri sendiri.
rozenesia 20:25 on 12.28.2007 Permalink |
@ aRuL [1]: Kelihatannya apa?
@ Mrs.Neo Fortynine [1]: Nyanyian Ratapan Mazmur (Zabur)… Ke mana ya?
@ Mrs.Neo Fortynine [2]: Mati kok. coretangunawan dan viaonlinemeditation sudah DELETE, sisa rozenesia yang menunggu saatnya. Kecuali ada Juruselamat.
@ Payjo: Makasih.
@ aRuL [2]: Ya, jika ada Juruselamat yang menyelamatkan nyawa blog ini.
PERTAMAX? Selamat!!
@ aRuL [3]:
@ niez: Mungkin.
@ Praditya: Tanya kenapa?
@ abee: Iseng kok, dikerjain jam 11 tanggal 28 Des 2007, jadi masih mentah banget.
@ zal: Kebetulan saya paling suka Mazmur dari semua kitab-kitab Perjanjian Lama.
Yang benar? 
Penggembala?
…yah, emang masih kejebak nih.
@ Xaliber von Reginhild: Ohohooo… Makasih. Masih mentah ini, buatnya cuma 20 menit totalnya…
BTW, saya masih nunggu Juruselamat.
aRuL 20:27 on 12.28.2007 Permalink |
nunggu juruselamat? siapa yang jadi juru selamatnya?
rozenesia 20:29 on 12.28.2007 Permalink |
@ aRuL: Kalo saya tau mah, nggak bakal ngerencanain delete…
extremusmilitis 21:59 on 12.28.2007 Permalink |
I feel you didn’t loss it at all My Bro. Even it will be more bigger than you thought, if you believe it and keep it as your place to write something for this rubbish world.
I do believe that you’ll make it as you wish
Cynanthia 22:04 on 12.28.2007 Permalink |
Ini kaleidoskop, toh? Nggak nyadar…
rozenesia 22:18 on 12.28.2007 Permalink |
@ extremusmilitis: Thanks, bro. Now…. I’m waiting for the Messiah.
@ Cynanthia: Surat kematian.
Sawali Tuhusetya 22:25 on 12.28.2007 Permalink |
Kok kayak kaleidoskup blog Mas Roze, hehehehe
Jangan tewas lagi dong, ntar yang komen di blogku siapa
Amed 22:27 on 12.28.2007 Permalink |
Review?
rozenesia 22:35 on 12.28.2007 Permalink |
@ Sawali Tuhusetya: Mari kita tunggu sang Juruselamat, pak.
Kalo nggak ada sampai tanggal 1 Jan, ya…delete blog deh.
@ Amed: Keliatannya gimana?
orang lewat 23:26 on 12.28.2007 Permalink |
wah ini kaleidoskopnya gun
Yari NK 23:50 on 12.28.2007 Permalink |
Siiip deh, apapun itu saya tetap mendukung kebebasan mengemukakan pendapat asal tidak mencela (mengkritik atau menyindir tentu boleh) orang lain, semua orang bebas memilih pendapatnya atau apa yang dipercayanya, mempertahankan, dan mengekspresikan atau mengemukakan pendapatnya. Ok?
venus 00:19 on 12.29.2007 Permalink |
you cant do this to yourself. satu lagi kematian? gak lucu, gun. ayo, nulis lagi *peluk gun*
tukangkopi 00:48 on 12.29.2007 Permalink |
Weleh..weleh..gw bingung. Ada apa ini bro? Kalo ini surat kematian, surat wasiatnya mana?
Sang juruselamat itu kira2 ciri2nya kek gimana gun? Biasanya kan ada tanda2nya dulu…
CY 01:34 on 12.29.2007 Permalink |
Hahaha… tipikal orang Jepang ya?? Misi ga sukses lantas harakiri..? Ente orang Indonesia bung…, misi ga sukses tebelin muka hidup lanjut terusss wakakakaka…
CY 01:36 on 12.29.2007 Permalink |
Eh.., kok jadi terkesan nyindir ya?? gw ralat dikit deh…
Sweet Water 01:41 on 12.29.2007 Permalink |
a…
*speachless*
T_______________T
*terdiam lama, dan terus diam*
danalingga gi fakir bandwith 01:47 on 12.29.2007 Permalink |
Jadi saya komen hanya untuk di delete nih gun?
Btw,perenungan yang hebat.
Zazi 02:36 on 12.29.2007 Permalink |
walah.. kirain apa
setelah liat2 linknya, ternyata kaleidoskop
hohoho
aRuL 02:43 on 12.29.2007 Permalink |
Cari juru selamat itu, coba baca kitab sucinya baik2, ada petunjuk di situ, moga2 di dapatkan di situ yah..
vend 02:52 on 12.29.2007 Permalink |
ini gara2 postingan di blog sebelah (yang sekarang lagi diproteksi) ya?
ummm, mendingan tenangin diri aja dulu deh..
juru selamat 02:53 on 12.29.2007 Permalink |
wahai umatku. keputusan yang engkau ambil ada di tanganmu sendiri. namun apakah keputusan itu telah kau pikirkan secara matang-matang? sudahkan engkau melihat efek kedepan jika kau membumihanguskan tempat ini?
pecahkan saja monitor itu biar ramai. biar gaduh rampai rusuh dan membuat hatimu lega. jangan kau lepaskan kegusaranmu pada tempat ini dimana banyak manusia-manusia yang tersesat, namun mereka pulang dengan tersenyum setelah terhibur oleh goresan-goresanmu. tidakkah kau melihat efek dari tempat ini?
sayang sekali kedua rumah terdahulumu sudah kau babat habis. padahal banyak ilmu yang dapat ditemukan disana. janganlah kau habiskan rumah terakhirmu ini. karena masih banyak yang membutuhkan tempat ini.
coba tanyakan mereka, mana yang lebih besar dari keinginan mereka. melihat tempat ini penuh pro dan kontra seperti biasa, atau hilang tak berbekas seperti tragedi-tragedi yang telah terjadi di Indonesia. tolong dipikirkan kembali sudah berapa banyak orang yang tersenyum melihat tempat ini. tolong dipikirkan lagi gun…
-juru selamat
gadungan-Zazi 03:03 on 12.29.2007 Permalink |
*ngakak liat si juru selamat
gadungan*nieznaniez 03:34 on 12.29.2007 Permalink |
hmm…setelah baca beberapa komengs baru ngeh…
jadi begini,
klo mo tewas ya silakan saja.
kerugian buat saya ya “cuma” kehilangan 1 sumber ilmu lagi.
nah klo mo hidup lagi, nanti bikin yang baru kan gampang, gretongan pulak.
ya to ??
ihihhiiiii…
*ditimpukin juru selamat
gadungansora9n 04:03 on 12.29.2007 Permalink |
Makanya, jadilah orang yang baik. Walaupun ente nggak menemukan Tuhan, seenggaknya ente masih bisa bermanfaat buat banyak orang sebelum meninggal. That, itself, is also a meaning of life.
aRuL 04:04 on 12.29.2007 Permalink |
@ juru selamat : setelah roze saya anjurkan membaca kitabnya, datang beneran si juru selamat
*tumben panjang koment chika…..*
iyah, sayang roze kamu kalo menghapus blog ini.
btw ada apa sih sebenarnya?
calonorangtenarsedunia 04:28 on 12.29.2007 Permalink |
Entah ini kaleidoskop ato keluhan, yang pasti:
Just do what you have to do Gun..
Membenci sesuatu justru membunuh dirimu sendiri dan bukannya hal tersebut.
Dekisugi 05:12 on 12.29.2007 Permalink |
mesias dari florence? itu sih roberto baggio. nunggu saya aja. besok setelah saya memimpin indonesia di pentas dunia, saya bakal dijuluki “mesias dari soropadan”
imcw 05:54 on 12.29.2007 Permalink |
Tulisannya mantaps. Sampe merinding saya membacanya.
Bebek Jamuran... 05:55 on 12.29.2007 Permalink |
Mau mati lagi?
Hidup dan mati di dunia maya memang sangat mudah untuk ditentukan ya…
dobelden 06:24 on 12.29.2007 Permalink |
lha lha lha
panjang amiirr…..
*komen dulu aja… bacanya keri
eace:
Neo Fortynine 06:39 on 12.29.2007 Permalink |
Hmmm…. yang salah tanggap bisa bisa langsung mengkafirkan atau membid’ahkan nich
arya 06:46 on 12.29.2007 Permalink |
*ndak paham*
ekowanz 06:57 on 12.29.2007 Permalink |
haduuh banyak linknya….
rozenesia 07:19 on 12.29.2007 Permalink |
@ orang lewat: Mungkin yaa…
@ Yari NK: Tentu saja, dan kali ini aku tergantung di pingging jurang. Bergantung pada pohon kecil yang tumbuh di sana… Apakah ada yang akan mengulurkan tangannya?
Pendapatku boleh runtuh, tapi suatu saat itu akan bangkit lagi, atau tidak ya…
@ venus: Aku belum mengalami ‘kematian’ itu… Masih fase menujunya. Heheheee… Tetap setia menunggu Juruselamat, nampaknya.
@ tukangkopi: Oh, ga ada wasiat kayaknya…
Ciri-cirinya? Saya belum tahu…
@ CY [1]: Bukan masalah misi, kawan…
Karena aku tak kecewa.
@ CY [2]: Nah itu dia, aku ga bisa memaksakan sebuah ‘gaya’ langsung…
@ Sweet Water: …?
@ danalingga gi fakir bandwith: Mungkin ya mungkin ga…
@ Zazi [1]: Oh ya…?
@ aRuL [1]: Aku baca Mazmur (Zabur) dari awal sampai akhir…dan terhenti pada ratapan-ratapan…
@ vend: Hmn? Cuma sekadar sulutan api pada genangan minyak yang belum kering benar…
@ juru selamat:
Kurasa seperti blog-blog terdahulu, direlakan begitu saja setelah kematian mereka…
Tempat inilah biang semuanya! Andai tak ada tempat ini…bayangkanlah.
Aku sudah hendak bangkit lagi, namun api kecil itu membakarku kembali!
Apa yang dibutuhkan? Provokasi? Kegaduhan? Candu?
Mungkin ini rumah terakhir… tapi “Oh My God!”, ruhku masih melayang di sana!
Aku memikirkan orang-orang bermuka datar, bermika masam, cemberut, hingga penuh amarah…
Apa artinya senyum jika masih banyak seperti yang kusebutkan di atas…?
@ Zazi [2]: …
@ nieznaniez: Seandainya bangkit dari kubur lagi, mungkin aku akan membeli sebuah rumah mungil…
@ sora9n: Kuharap begitu… Kurasa, bagaimana semua ini? Ahhh… Resah rasanya.
@ aRuL [3]: Tersirat di paragraf-paragraf akhirrrr…
@ calonorangtenarsedunia: Aku tak ingin membenci, aku merasa gundah dan api itu kini membakar habis diriku, menyisakan sedikit harapan bagi Sang Juruselamat…
@ Dekisugi: Sayangnya Messiah yang satu itu cuma bisa membuatku tertawa…
@ imcw: Aih, terimakasih…
@ Bebek Jamuran…: Ya, seperti diriku mati di komunitas tigabelas, tanpa sisa kali ini…
@ dobelden: Oh, silahkan…
@ Neo Fortynine: Biarlah mereka berseru, aku gundah tanpa peduli!
@ arya: …
@ ekowanz: Jadi…?
rozenesia 07:21 on 12.29.2007 Permalink |
@ orang lewat: Mungkin yaa…
@ Yari NK: Tentu saja, dan kali ini aku tergantung di pingging jurang. Bergantung pada pohon kecil yang tumbuh di sana… Apakah ada yang akan mengulurkan tangannya?
Pendapatku boleh runtuh, tapi suatu saat itu akan bangkit lagi, atau tidak ya…
@ venus: Aku belum mengalami ‘kematian’ itu… Masih fase menujunya. Heheheee… Tetap setia menunggu Juruselamat, nampaknya.
@ tukangkopi: Oh, ga ada wasiat kayaknya…
Ciri-cirinya? Saya belum tahu…
@ CY [1]: Bukan masalah misi, kawan…
Karena aku tak kecewa.
@ CY [2]: Nah itu dia, aku ga bisa memaksakan sebuah ‘gaya’ langsung…
@ Sweet Water: …?
@ danalingga gi fakir bandwith: Mungkin ya mungkin ga…
@ Zazi [1]: Oh ya…?
@ aRuL [1]: Aku baca Mazmur (Zabur) dari awal sampai akhir…dan terhenti pada ratapan-ratapan…
@ vend: Hmn? Cuma sekadar sulutan api pada genangan minyak yang belum kering benar…
@ juru selamat:
Kurasa seperti blog-blog terdahulu, direlakan begitu saja setelah kematian mereka…
Tempat inilah biang semuanya! Andai tak ada tempat ini…bayangkanlah.
Aku sudah hendak bangkit lagi, namun api kecil itu membakarku kembali!
Apa yang dibutuhkan? Provokasi? Kegaduhan? Candu?
Mungkin ini rumah terakhir… tapi “Oh My God!”, ruhku masih melayang di sana!
Aku memikirkan orang-orang bermuka datar, bermika masam, cemberut, hingga penuh amarah…
Apa artinya senyum jika masih banyak seperti yang kusebutkan di atas…?
@ Zazi [2]: …
@ nieznaniez: Seandainya bangkit dari kubur lagi, mungkin aku akan membeli sebuah rumah mungil…
@ sora9n: Kuharap begitu… Kurasa, bagaimana semua ini? Ahhh… Resah rasanya.
@ aRuL [3]: Tersirat di paragraf-paragraf akhirrrr…
@ calonorangtenarsedunia: Aku tak ingin membenci, aku merasa gundah dan api itu kini membakar habis diriku, menyisakan sedikit harapan bagi Sang Juruselamat…
@ Dekisugi: Sayangnya Messiah yang satu itu cuma bisa membuatku tertawa…
@ imcw: Aih, terimakasih…
@ Bebek Jamuran…: Ya, seperti diriku mati di komunitas tigabelas, tanpa sisa kali ini…
@ dobelden: Oh, silahkan…
@ Neo Fortynine: Biarlah mereka berseru, aku gundah tanpa peduli!
@ arya: …
@ ekowanz: Jadi…?
aRuL 07:43 on 12.29.2007 Permalink |
@ roze : saya juga blum paham2 amat maksudnya,
*
Tapi kalau maksudnya kamu tidak mau blogmu ini menjadi sasaran amukan orang2, karena membahas agama walaupun itu tidak menyinggung langsung. Kalo dari saya gini, membahas agama, membahas keraguan tentang agama, atau membahas tentang perilaku menyimpang pengikutnya memang wajar kita mempertanyakan atau membahasnya, tapi ada beberapa titik penting, bahwa membahas hal itu harus dengan niatan untuk memberikan pengertian yang lebih baik dan untuk lebih menjadi orang yang lebih mengerti tentang agamanya termasuk toleransi, tidak dengan sindiran2 itu, karena adanya sindiran2 itu maka akan menimbulkan ketersinggungan. Anda jugakan tersinggung ketika ada permasalahan kartun dikafirkan. itu akan terus berlanjut emosi2 yang muncul saling melempar pendapat2 masing2.Dan itu menjadi perputaran yang terus akan terjadi. Di tuding, Menuding, dituding lagi, menuding lagi. Wah memang kerja berat.
Coba memberikan pengertian ke mereka dengan pengandaian yang lebih ngena atau dengan memberikan kesejukan dalam berkata2. Tentunya semua golongan akan merasa sejuk juga membacanya.
Saya terinspirasi oleh koment indigo di http://retorika.wordpress.com/2007/12/28/saya-berorientasi-liberal-so-what/
yang menyejukkan semua pihak.
*upz, panjang banget, panjang mana sama koment chika? kayak mosting aja di sini
*maaf juga kalo saya salah tanggap maksudnya, dikoreksi kalo memang salah yah*
Niwatori 07:47 on 12.29.2007 Permalink |
2x scroll masih cnut-cnut.. pokoknya bukunya jangan dibakar, masukin laci ajah, orang lain masih mau baca
rozenesia 07:58 on 12.29.2007 Permalink |
@ aRuL:
Saat “Pesan-Nya” hadir, aku sudah tidak lagi menyinggung apa-apa. Saat “Mereka yang mulai duluan!” hadir, tujuanku hanya ini mengeluarkan curahan hati mengenai sebuah budaya ‘menyalahkan pihak yang sebagai yang memulai duluan’ dan ‘membenarkan’ tindakan sendiri dengan alasan itu. Di sini konteks yang kubawa global, bukan religi…. Dan lanjut ke posting berikutnya…
..aku sudah coba meredam api itu, tapi sayangnya itu menyala lagi saat api kecil itu terlempar ke genangan minyak yang belum kering…
Aku nggak tersinggung waktu itu, aku cuma prihatin dan tidak memilih untuk membahasnya. Karena aku rasa percuma jika aku membahasnya…. akan tambah misuh, aku rasa ada orang yang lebih tepat dan pantas membahasnya.
Kalau kurasa percuma aku membahasnya, aku diam aja.
Ini dia, aku nggak bisa memaksakan sebuah gaya… Jika aku sudah mengalir dengan gaya menulis yang begini, aku mungkin bisa berubah ke gaya menulis lain. Tapi itu nggak bisa dipaksakan, biarlah mengalir sendiri perubahannya. Dan itu belum terjadi…
..kuharap akan, dan aku berusaha, setidaknya.
68%™ sudah tepat kok.
StreetPunk 08:04 on 12.29.2007 Permalink |
O..kaleidoskop, kirain apa.
Masa sulit ya, setiap orang termasuk aku sendiri pernah mengalaminya.
Blogmu kan diciptakan, diisi postingan, tentunya ada respon dari masyarakat. Respon tersebut berupa komen-komen yang menyertai tiap postingan. Ada yang positif, ada yang negatif, ada yang membangun, ada yang menghancurkan semangat. Itu kan resiko masing-masing blogger. Selama alamat blognya diketahui dan ada yang membaca tulisannya, tentu ada respon masing-masing pembaca. Tergantung kita, mau menanggapinya seperti apa.
Jangan memulai tahun dengan hati yang gundah, di saat yang lain sedang bersemangat menyambut awal yang baru. Tapi terserah juga ya..
.
.
aRuL 08:09 on 12.29.2007 Permalink |
iyah emang ngak bisa maksain gaya penulisan,ini hanya bahan pertimbangan aja koq kenapa hal tersebut terjadi.
Saya juga orangnya ngak gitu2 amat jadi orang, Mungkin lebih banyak belajar lagi kali yah kita jadi lebih mengerti bagaimana pengertian tanpa menimbulkan permasalahan tapi memberikan kesejukan buat semua.
rozenesia 08:10 on 12.29.2007 Permalink |
@ StreetPunk: Kaleidoskop, mungkin…
…masalah komentar-komentar, aku tak kecewa dan aku tidak mati karena itu waktu itu…
…hanya saja… aku yang tadinya tidak jadi mati, kini malah menghadap kematian lagi karena sulutan api kecil…
God knows…
rozenesia 08:17 on 12.29.2007 Permalink |
@ Niwatori: Eh, masuk akismet lagi…maa…
Bukunya…rusak, hancur… ahhhhh…
StreetPunk 08:48 on 12.29.2007 Permalink |
Bagus, ’sulutan api kecil’, berarti masih belum terlambat untuk menyiramnya..
.
.
rozenesia 08:53 on 12.29.2007 Permalink |
@ StreetPunk: Sampai 1 Januari…menunggu Sang Juruselamat. Jika Sang Juruselamat itu tak datang…sampai 1 Januari…musnahlah semua eksistensi di sini.
zal 08:54 on 12.29.2007 Permalink |
::Aneh ya gun…
, Mazmurmu menggembirakan, mengapa ratapan yang dirasa…, dimana missnya… 

jika tulisanmu membuatmu menderita, itu hanya perasaan dek gugun saja…
gun, menurut perasaan saya, Kebenaran, apapun yg terumbar, hasilnya bukan meyakinkan yang lain, namun lebih banyak membuktikan keyakinan pengumbarnya, jalannya… ya seperti konferhensip kali ya.., tidak hanya satu dosen/ guru besar…,
Kegalauan, itu seumpama orang hamil, yang mengandungi sesuatu, segalanya tak menyenangkan, badan dirasa pegal, pening yang datang, penng dirasa, mual yang terumbar bukankah itu pertanda akan lahir seorang bayi…
Mungkin kita merasa, tangan kita bergerak atas daya kita, kalau kukatakan bukan gun, dianya hanya tunduk pada otak, dan otak itu bukan seperti gambar anatomy tubuh itu, seperti “otak pelaku pembunuhan” biasanya bukan yang bertindak membunuh itu…tapi dialah yg memerintah…
Tidak selalu fikiran ini, adalah fikiran kita, tidak selalu…meskipun berasa keluar dari rangsang kepala itu…
Gun, kamu adalah rozenesia…, buahmu tidak selalu bagai anggur dipetik langsung bisa dimakan, buahmu sudah beragam, ada yang harus, di kupas, ada yang harus dibelah, jangan risau roze…, kalaupun risau.. kamu harus percaya itu lantaran janinmu yg maha cerdas…., jangan risau roze, takkan datang laron yang mengganggu kalau bukan pada cahaya dan air…
rudyhilkya 09:06 on 12.29.2007 Permalink |
lagunya Mazmur ya … cmiiw
knapa akhir-akhir ini kamu melankolik ? Any bothering u kah?
jadi sentimentil jauh …. padahal tulisan yang dulu antik-antik
eh saya usul jadikan buku betulan aja dech copy pas dengan yang kasi comment lumayan laku sekedar pajangan …
atawa bisa jadi karya sastra untuk jurusan bahasa di sekolahmu yang ada di utara negeri jawa ini
rudyhilkya 09:07 on 12.29.2007 Permalink |
kapan nikahnya ? hehehe
rozenesia 09:22 on 12.29.2007 Permalink |
@ zal: Mazmur 88 ini ratapan orang sakit…
…dan aku sedang sakit.
Ah, makasih…aku jadi sedikit tercerahkan.
Bagian inilah yang sedikit membuka pencerahan bagiku…tapi masih belum sepenuhnya aku lepas…
@ rudyhilkya [1]: Yap, pak. Mazmur.
Yah, beginilah pak…orang lagi kacau.
Eh, buat jurusan bahasa di sana? Ini kacau ah…
@ rudyhilkya [2]: Waduh, pertanyaan yang belum saatnya mengingat masih muda.
zal 09:29 on 12.29.2007 Permalink |
::roze, selidiki sekali lagi aja…apa benar Mazmur88 itu ratapan orang sakit…, selidiki sekali lagi aja…, endak mungkin siapapun dapat membahagiakanmu…mazmur88 itu jawaban untukmu….jangan cari dari yang lain… *maksa*
sweet water 09:30 on 12.29.2007 Permalink |
*baca ulang*
oh.
apa yang dicari sang jiwa?
apa yang diinginkan sang jiwa?
apa yang dirindukannya?
jiwa pencari, jiwa yang hampa, jiwa yang selalu terbang ingin terbebaskan
semoga jiwa itu menemukan apa yang carinya -
rozenesia 09:31 on 12.29.2007 Permalink |
@ zal: Sebentar, lagi masuk ke “Raja-Raja” nih…
@ sweet water: …
Kopral Geddoe 10:15 on 12.29.2007 Permalink |
May Haruhi be with you…
Amen.
rozenesia 10:23 on 12.29.2007 Permalink |
@ Kopral Geddoe: *bongkar-bongkar Injil Yohanes*
Amen.
Menggugat Mualaf 11:14 on 12.29.2007 Permalink |
Menikmati perjalanan mencari Nya juga mengasyikkan koq. Tapiii….sekarang bukan agama kan yang menjadi pusat perhatian? Mungkin ada baiknya rehat sebentar dari yang namanya religi, pusatkan perhatian untuk yang lain. Cari uang mungkin ?
StreetPunk 11:45 on 12.29.2007 Permalink |
Jadi Juru Selamat yang dimaksud Yesuskah?
.
.
Gyl 12:11 on 12.29.2007 Permalink |
Ini kaleidoskop ?? Kok kayaknya bukan dech… Tapi sepertinya iya. Hmm…. ya semoga bisa menemukan apa yang dicari
Hanna 13:08 on 12.29.2007 Permalink |
Gun, ada apa lagi, nih? Wah, keliatannya gusar, gundah, resah, he he he. *sok tahu*
Hanna 13:09 on 12.29.2007 Permalink |
Jangan menewaskan blog ini lagi, ya, Gun. Jangan!, please…..
caplang™ 13:57 on 12.29.2007 Permalink |
tuh kan bener…
udah mulai kliatan tanda-tanda tersesat ke jalan yg lurus
Kopral Geddoe 14:05 on 12.29.2007 Permalink |
BTW, kalau mau ganti blog, kita bisa buka bareng-bareng.
gimbal 14:45 on 12.29.2007 Permalink |
absen dulu aja…
rozenesia 16:18 on 12.29.2007 Permalink |
@ Menggugat Mualaf: Emang udah ke yang lain kok… Cumaaaa… Ada api kecil yang membakar.
@ StreetPunk: Jelas bukan.
Ini kan semuanya bahasa kiasan.
@ Gyl: Mungkin ya, mungkin ga.
@ Hanna [1]: Api itu membakarku…
@ Hanna [2]: 2 blog aku yang lain aja udah ku-delete, sisa ini…
@ caplang™: …
@ Kopral Geddoe: Sayangnya jika ganti, aku jadi kaum borjuis.
@ gimbal: Silahken.
marinotheguardian 16:25 on 12.29.2007 Permalink |
test. salam kenal
Lemon S. Sile 17:01 on 12.29.2007 Permalink |
*skip! Gambarnya keren.
rozenesia 17:10 on 12.29.2007 Permalink |
@ marinotheguardian: Syalam khenal juga.
@ Lemon S. Sile: …
Ram-Ram Muhammad 17:45 on 12.29.2007 Permalink |
Komennya apa ya, malah jadi sedih…
Miss you brother….
Pyrrho 17:55 on 12.29.2007 Permalink |
mood-nya si roze ini mirip roller-coaster : naik turun, bisa bikin mual, bisa juga tertidur, tapi lebih sering menjerit
ada apa dengan juruselamat Gun ? perlu saya hadirkan sekarang ?
*menunggu godot*
Lemon S. Sile 17:56 on 12.29.2007 Permalink |
*membbaca*
menurut saya…semedi lagi. jangan terlalu terjebak sama konflik.
itu menurut saya. sekarang coba senang2
rozenesia 18:00 on 12.29.2007 Permalink |
@ Ram-Ram Muhammad: Amen.
@ Pyrrho: Menjerit yang bagaimana?

Yang kayak di felem bokep?Mana Juruselamatnya? Apa/siapa?
@ Lemon S. Sile: Sudah menghindarinya sejak “Pesan-Nya”< cuma apiiiiii keciiilll itu…merusak konsentrasiku untuk mengeringkan genangan minyak.
Lemon S. Sile 18:01 on 12.29.2007 Permalink |
untuk memadamkan api bukan hanya air yang dibutuhkan.
cabut semua oksigen! tertidur
rozenesia 18:05 on 12.29.2007 Permalink |
@ Lemon S. Sile: Mana juruselamatnya? Aku sedang mencari… *nungguin sampai 1 Januari*
rudyhilkya 18:54 on 12.29.2007 Permalink |
Juru Selamat biasanya kalo nggak di depan
(paling depan) bisa juga yang ada paling belakangan ….
Selamat Taon Baruan dulu *salaman dan jingkangan*
restlessangel 20:08 on 12.29.2007 Permalink |
oooi what wrong wit u ?????
dua kali baca masih belon nangkep juga,,,,,
djunaedird 20:25 on 12.29.2007 Permalink |
In God we trust. Ini kata-kata bijak yang ada dalam duwit $USA.
Saya pun juga demikian, walau ia adalah merupakan warisan, bukan hasil pencarian.
Karena hidup hanya sekali, dan kita tak tahu pasti, sampai kapan masih bisa bernapas, saya tak mau ambil resiko.
Apa yang saya yakini, sebisa mungkin saya pupuk dan pelihara.
Selamat menyambut datangnya tahun 2008
akafuji 22:09 on 12.29.2007 Permalink |
kalo aku sih nyantai aja, yang datang biar datang, yang pergi biar pergi. toh bagaimanapun kita tetap di beri petunjuk olehnya.
kapan mati kan gak ada yang tau.
rozenesia 06:34 on 12.30.2007 Permalink |
@ rudyhilkya: Heheheee… Itu sih Juru selamatan pas ujian, pak.
Yaudah, met Taun Baroe.
@ restlessangel: Entah…
@ djunaedird : Ah, makasih udah berbagi. Warisan dan pencarian…menarik ya.
Ah, selamat tahun baru juga..
@ akafuji: Aku siap pergi~
Menggugat Mualaf 08:52 on 12.30.2007 Permalink |
Eh, jangan lupa oleh dari tempat kepergianmu yah.
Menggugat Mualaf 08:52 on 12.30.2007 Permalink |
Eh, jangan lupa oleh-oleh dari tempat kepergianmu yah.
isha 09:20 on 12.30.2007 Permalink |
gambarnya keren banget! buat ato dapet? pokoknya keren!
aRuL 09:42 on 12.30.2007 Permalink |
gimana udah dapat juru selamatnya?
Mihael "D.B." Ellinsworth 10:47 on 12.30.2007 Permalink |
Juru Selamat datang saat 1 Januari ?
…Kembang apikah ?
shinobigatakutmati 11:16 on 12.30.2007 Permalink |
benarkah?
hohohoho… berarti ada pesta kembang api beneran ^ ^
sitijenang 12:04 on 12.30.2007 Permalink |
konon dahulu kala, di masa kejayaan Majapahit, kata agama artinya adalah undang-undang. Sementara itu, kepercayaan dan keyakinan individu disebut darma. jadi, seluruh rakyat ketika itu punya satu agama, tapi hidup berdampingan dengan darma yang berbeda-beda. hanya pelanggar agama yang dikenai sanksi pidana. itulah secuplik hikayat negara kertagama (undang-undang negara). maka, kembalilah ke agama kita semua, yaitu UUD 1945 muahahaha…
setelah menyembelih domba-domba, rayakan kelahiran Sang Penggembala… Merdeka…Hanna 13:13 on 12.30.2007 Permalink |
Gun, siramilah api itu dengan kesejukkan jiwamu. O, ya, Gun, makasih ya motivasinya. Hiks-hiks-hiks *jadi terharu* Adikku yang baik.
Met Taon Baru, Gun. Tetap semangat ya.
Saya yakin adik secerdas Gun-gun pasti bisa. SEMANGAT!!!
extremusmilitis 15:49 on 12.30.2007 Permalink |
Messiah Is Inside Your Heart My Brother
Met Tahun Baru 2008
Wish You All The Best And Success
Salam Militis!!!
kurtubi 15:54 on 12.30.2007 Permalink |
Apakah ini juga skenario seperti penulisan yang lama?
memang kecerdasan Gun Mr Lee ini perlu disaluti atas semua keseriusan tulisan ini.. mengenai Juru Selamat… ah engkau sudah memiliki.. temukanlah pasti dapat…
Tapi kalau juru selamatnya itu si anu… yaa tinggal bersabarlah.. tidak perlu “bunuh diri” kalau mau membahagiakan orang lain.. heheh
iman brotoseno 16:55 on 12.30.2007 Permalink |
selamat tahun baru saja.
salam
Moerz 17:08 on 12.30.2007 Permalink |
ah….
Moerz 17:09 on 12.30.2007 Permalink |
cepe….
Moerz 17:10 on 12.30.2007 Permalink |
hetrikzz…
antarpulau 21:59 on 12.30.2007 Permalink |
Selamat Tahun Baru 2008
restlessangel 03:13 on 12.31.2007 Permalink |
* soundtrack : Losing My Religion by REM*
u must hear that song, brader…..^^
setuju ma as militis dan pak kurtubi, the messiah is in yr heart, brader….
ngapain nunggu ??? palagi dicari….
ayo, mending joget2 sambil dengerin REM!!!!
ugh yeaahhhh^^
cK 05:03 on 12.31.2007 Permalink |
udah dateng belum juru selamatnya?
*nunggu sambil makan pop corn*
purmana 06:42 on 12.31.2007 Permalink |
Ugh… puitis bener kata2nya.
gw udah kesusahan bwt mengartikan kata2 yg puitis, maklum udah terbiasa baca sesuatu yg bersifat eksak
*scroll up buat baca sekali lagi*
jensen99 08:18 on 12.31.2007 Permalink |
Lha, katanya waktu itu ‘menganut’ agama Sola Aoi?
*becanda; padahal blum baca; save saja dan baca tahun depan…*
Met Tahun Baru 08 sj deh.
SemogaHarus tetap “hidup” tahun depan…!‘The LORD is near to all who call upon Him, To all who call upon Him in truth.’ (Psalm 145:18 NASB 95)
Muhammad Zulfikar 11:29 on 12.31.2007 Permalink |
met tahun baru dan moga sukses
StreetPunk 18:34 on 12.31.2007 Permalink |
Eh, 1 Januari udah dimulai beberapa ratus menit yang lalu, nih. Juru selamatnya udah ketemu belum? Seperti apakah rupa juru selamat yang dimaksud?
Selamat memulai tahun, ya.
steax 01:28 on 01.01.2008 Permalink |
Jadi? Intinya, tahun berikut mau buat lebih banyak post lagi untuk mencari agama baru? Or better yet, make a new one?
dodot 03:24 on 01.01.2008 Permalink |
perenungan yach
cK 05:15 on 01.01.2008 Permalink |
met tahun baru
sayanggun…Praditya 09:22 on 01.01.2008 Permalink |
@cK:
Saya kemaren ngucapin itu ke Gun malah dikasih “wejangan”…
Saya ndak ngerti..