Karena wanita ingin dimengerti…

would you?

Sebenarnya sudah sejak lama ada niat untuk merilis tulisan ini. Tapi seperti biasa, karena satu dan lain hal, maka tulisan ini terus menerus tertunda. Dan memang, masih jauh dari bagus karena penelitian yang saya lakukan tidak berjalan mulus, salah satunya karena faktor waktu yang hanya sedikit jatahnya. Baiklah, sebelum ocehan akan melantur ke kiri-kanan-atas-bawah selangkangan, kita mulai saja tulisan ini.

Oh ya, sebelum semuanya terlambat, saya cuma ingin bilang kalau berhati-hati saja dengan fast-reading, karena poin-poin yang saya kumpulkan saya distribusikan ke dalam beberapa bagian, yang tentunya berbeda satu sama lainnya. Belum lagi konotasi dan kata-kata bersayap yang banyak diumbar. Yah, hati-hati saja dengan jebakan fenomena curhat. :P

Bagian I: Wanita yang berbeda satu sama lainnya

Wahai kalian kaum Adam… Siapa bilang wanita itu sama? Siapa bilang semua wanita suka dengan pujian gombal yang disertai dengan bunga mawar? Siapa bilang semua wanita yang jika diam itu berarti tandanya setuju? Karena wanita itu berbeda satu sama lainnya, kawan… :cool:

…begitu juga halnya dengan blogger. ;)

Blogger juga berbeda satu sama lainnya. Dari soal dekorasi blog hingga gaya penyampaian pesan. Gaya penyampaian pesan ini terbagi lagi, yaitu: penyampaian melalui media entry blog dan penyampaian melalui media comment box. Ada blogger yang mengetik tulisan-tulisan yang lumayan panjang namun lugas, ada blogger yang bisa menghasilkan artikel-artikel dalam ruang lingkup yang sama dengan teratur, ada blogger yang menulis sesuka hati, ada blogger yang kejar setoran karena tuntutan profesi, ada blogger yang menulis dengan gaya satir dan sarkas, ada blogger yang menulis tulisan bernada persuasi, hingga ada pula blogger yang menulis tulisan pendek ora mutu entah apa tujuannya. Ada pula yang memaparkan komentar sepanjang jalan kenangan, ada yang kadang Out-of-Topic, bahkan nyampah, ada yang serius, dan ada pula yang main-main. Sebenarnya masih banyak lagi, saya hanya memaparkan sedikit di antaranya saja.

Dan kini apa yang dibahas? Menilai, ya. Manusia memang hampir tidak pernah terlepas dari nilai, entah itu nilai akademis atau penilaian terhadap manusia lain. Tapi sayangnya saya tidak membahas nilai akademis, melainkan penilaian terhadap objek hidup, yaitu manusia blogger lain.

Penilaian yang bersifat subjektif memang tidak bisa dihindari. Namun kadang itu diperlukan juga, siapa tahu. Sadar atau tidak sadar, mungkin kita akan menilai blogger yang menulis entry-entry panjang di blognya dengan gaya bahasa formal dan serius atau yang menyumbangkan komentar serius sepanjang jalan kenangan sebagai orang yang, misalnya, dewasa, serius, punya pengetahuan dan wawasan yang luas. Sebaliknya, kepada blogger yang saban hari bercurhat ria di blognya, nyampah komentar di mana-mana, mungkin kita menilai ia sebagai orang yang easy-going, menulis sesuka hati, dan lain-lain. Tapi penilaian itu subjektif dan relatif, karena itu tidak semua penilaian kepada seorang blogger itu sama.

Bagian II: Wanita yang sulit dimengerti

Kadang wanita tidak mudah untuk dimengerti. Entah karena kemisteriusannya. Diam ataupun tidak, keras atau lembut, wanita tetap sulit dimengerti. Blogger pun begitu, entah ia menulis sepanjang skripsi, sesingkat pantun, atau apa pun. Kita memang secara sadar atau tidak, pasti mungkin menilai, apakah secara apa yang langsung kita lihat, atau prediksi berdasarkan aksi–dalam hal ini entry dan komentar.

Bisakah dengan mudahnya kita menilai blogger yang menulis entry maupun komentar yang bernada formal dan serius sebagai pribadi yang serius juga? Oh, mudahnya saja begini: bisakah kita menilai blogger yang meneriakkan idealismenya di blog dengan segala macam kritik, komentar, dan lainnya yang ditujukan kepada pemerintah sebagai orang yang mempunyai kepedulian sosial yang tinggi? Pendapat pribadi saya, tidak bisa secara mudah. Mengapa? Sedikit skeptis memang, tapi berpatokan kepada sebuah kalimat yang berbunyi: “On the internet, nobody knows you’re a dog.”. Dan bagi saya pribadi, kepercayaan ditumbuhkan dari sikap skeptis. :)

Jadi, kembali kepada gaya masing-masing blogger, apapun itu, apakah ia sarkastik, hiperbolik, dan lain-lain, tetap saja tidak mudah untuk dimengerti begitu saja. Kita tentu tidak bisa mengetahui apa yang ada di benak orang lain bukan? Apakah ia mencurahkan semuanya ke dalam curhat, siapa yang tahu di balik itu ia sedang melakukan kritik sosial? Atau ketika ia menuliskan artikel yang ckup menggebu-gebu akan idealismenya, siapa tahu itu hanya media cari muka? Bukannya hendak berprasangka buruk dahulu, tapi ini masalah menilai dengan bijaksana tanpa langsung mengecap.

Bagian III: Wanita yang belum bisa dimengerti

Apapun yang pria lakukan, apakah ia membelikan seorang mobil mewah untuk seorang wanita, apakah ia rela puasa tujuh hari tujuh malam, belum tentu itu bisa memuaskan wanita tersebut, dalam hal ini bisa mengerti wanita itu. Apakah ini juga berlaku untuk blogger?

Entah, saya tidak tahu.

Jadi sebenarnya apa yang diinginkan oleh seorang blogger? Merujuk kembali pada Bagian I, tiap blogger itu berbeda-beda, jadi sudah barang tentu apa yang diinginkan seorang blogger juga berbeda satu sama lainnya. Tapi saya yakin mayoritas blogger ingin dimengerti. Entah melalui cara apa, apakah dengan tulisannya yang dibaca banyak orang, tulisannya dikomentari banyak orang, tulisannya nongkrong di papan atas BOTD, atau hal lainnya. Eh, bisa juga dengan apa yang ia sampaikan–terlepas dengan cara apa, baik secara satir, atau blak-blakan–bisa dimengerti oleh pembaca dan komentator. Yang jelas, menurut pendapat saya blogger memang ingin dimengerti. Meskipun ada juga yang cuek-bebek dengan keinginan untuk dimengerti.

Realitanya memang, bagi saya, kebanyakan blogger belum bisa dimengerti. Apakah itu blogger yang mengungkapkan suaranya secara tersirat maupun tersurat. Mengapa? Ada banyak faktor. Entah itu kebiasaan fast-reading, hingga kebiasaan tebar pesona komentar di mana-mana yang bersifat kejar setoran. Tapi, entahlah…

Bagian IV: Wanita yang kembali ke rumah orangtuanya

“Pulangkan saja aku ke rumah orangtuaku…!” :cry:

Yang namanya manusia blogger itu heterogen, jadi pendapat ini pun hanya pendapat pribadi yang tentu saja bisa bertentangan dengan pendapat manusia blogger lain. :D

 

Pindah ke: GunawanRudy.COM, sila klik di sini!