“Tali-tali maut telah meliliti aku, dan kegentaran terhadap dunia orang mati menimpa aku, aku mengalami kesesakan dan kedukaan.”
–Mazmur 116:3

God Bless! Alhamdulillah! Terucap pelan dari lidahku yang kelu saat detik-detik pergantian tahun masehi. Inilah kiranya jawaban akan keputusanku menunggu Sang Juruselamat yang lalu. Tak megah, tanpa perayaan memang, tapi kukira ini sudah cukup banyak menggambarkan apa yang kurasa.

Aku memang telah kehilangan agamaku, sayang! Berkicaulah semaumu!

“Tahukah engkau, anakku? Semenjak hari di mana kita dilahirkan, kematian telah menanti, terus berjalan hingga akhirnya menjemput kita. Jangan sesalkan kematian. Sesalkanlah segala kesalahan yang diperbuat selama hidup. Jangan pula sekali-kali menyesali hidup, karena hidup adalah anugerah Sang Khalik yang terbesar.”
–my beloved father

Aku memang telah kehilangan agamaku, papa! Tapi aku belum kehilangan Tuhan!

Aku terdiam dalam gelap, sunyi dan sepi menghantui kesendirianku. Rasa lapar ini menyiksaku. Rasa haus ini menggerogoti ragaku. Rasanya sudah cukup aku harus menunggu, dan terus menunggu. Aku lelah. Kapankah engkau datang wahai Sang Juruselamat?


pose Gun yang keren di Sendang Sono, 1 Januari 2008
atas ide Fadli, berniat mendirikan “Jamaah Al Narsisiyah Al Metrosexualiyah”

Dan aku pun terbangun…

Hey blogger jogja.ada
ngumpul2 di manut cafe,
ditunggu jam 7 mpe 8.
Nanti abis itu kita putusin
mw kemana.

From: Antokhomokbilang
31.12.2007; 6.45 PM

Dengan kebingungan aku memacu sepeda motor menuju lokasi yang ditentukan, namun sayangnya di tengah jalan terjadi perubahan lokasi dikarenakan Manut Cafe tutup. Lokasi diubah ke angkringan di Lapangan Klebengan. Di tempat tersebut Antok dan Arya telah setia menunggu. Wah, wah… Ada apa ini? Mereka berduaan di bangku angkringan dengan cahaya remang-remang. Ya sudahlah, aku diam saja, toh itu bukan duniaku. :lol:

Kebetulan waktu itu seorang senior di fakultasku mengikutiku. Hanya seorang blogwalker-without-blog. Biasalah, pria kesepian yang tidak tahu hendak ke mana di malam tahun baru. Oke, jadi waktu itu kami berempat, aku, Antok, Arya, dan Risang sudah berada di lokasi. Menyusul kemudian Annots, Zam, dan Leksa.

Awalnya kami hendak ngalor-ngidul di Sego Macan, namun karena tempat penuh, terpaksa rombongan dialihkan menuju Djambur Cafe, di utara Fakultas Peternakan UGM.

Djambur Cafe, sebuah kafe yang dilengkapi dengan LCD layar lebar plus sajian live music, di situlah akhirnya rombongan kami menikmati malam pergantian tahun. Obrolan mulai dari gosip blog, homok, bokep, hingga menyoal kegiatan sosial puin menjadi santapan pelengkap makanan dan minuman. Tak lama kemudian, Alex datang. Menyusul Tika dan rombongannya. Sayangnya Ekowanz berhalangan hadir karena kelelahan setelah kencan. :mrgreen:

Oh ya, satu hal yang agak membuat aku merasa bingung. Lokasi kamar kecil sangat jauh dari kafe. Harus melewati gang gelap dan tempat kost terlebih dahulu. Mirip perjalanan suci saja. Huh! :evil:

Tahun baru 2008 pun tiba! Kembang api dinyalakan!

Oh ya, di tulisan ini aku tidak menerima ucapan Selamat Tahun Baru dan sebangsanya. Itu aku alihkan ke tulisan Selamat Natal tempo hari. Jika ada yang masih ngeyel mengucapkan, artinya dia melakukan kegiatan fast-reading. Hohohohooo… Plus juga, paragraf-paragraf awal dan judul cuma jebakan. Bahas saja kalau mau, tapi apa mungkin bakal aku tanggapi?

Setelah itu, entah ide gila dari mana datangnya, diusulkan untuk menikmati matahari terbit di Puncak Suroloyo. Namun entah kenapa, hanya empat orang dari kami, yaitu aku, Antok, Zam, dan Leksa yang memutuskan untuk pergi ke sana. Sisanya? Ah, mungkin sibuk dengan urusan masing-masing.

Jam 1 pagi, setelah berkemas di kost Antok, kami berempat pun berangkat. Hanya dengan dua sepeda motor, Antok dan Zam, aku dan Leksa. Persiapan berupa makanan ringan dan bahan bakar pun telah tersedia. Malangnya, di Jalan Magelang, aku dan Leksa kehilangan jejak Antok dan Zam karena kami berdua seringkali terjebak lampu merah. Akhirnya diputuskan mereka berdua menunggu kami di depan Klenteng Hok An Kiong, Muntilan. Di sana, setelah kami berdua berhasil menyusul, ransum makanan pun bertambah dengan adanya gorengan!

Belok kiri di ujung Pasar Muntilan, kami harus menempuh jarak sejauh 40 km, itu pun ditambah tersesat sejauh 4 km karena papan penujuk jalan tidak kelihatan, saking gelapnya. Akhirnya kami menemukan rute yang benar dan harus menanjak sejauh 15 km. Para pemuda yang menunjukkan arah kepada kami sempat memperingati bahwa ada setan! Lha, kami tidak takut dengan setan, kami takutnya dengan manusia yang kebetulan menjadi perampok, yang parahnya lagi jika itu adalah homok dan kami satu per satu kehilangan keperawanan pantat kami! Duh Gusti, harga diri lebih penting ketimbang harga motor! Untunglah akhirnya kami sampai dengan selamat di puncak. Walau sebelumnya harus menaiki 286 anak tangga yang cukup melelahkan.

Sampai di atas, ternyata sudah ada beberapa orang yang mendirikan tenda di sana. Terpaksa kami pun harus berbagi tempat. Dingin sekali, kami pun sangat kelelahan. Dan konyolnya, mantel hujan dan kantong plastik berisi gorengan ketinggalan di sepeda motor kami di bawah! Ah, sial! Apakah ada sang relawan, pahlawan yang sudi turun naik tangga sial di tengah kegelapan, udara dingin, dan rasa lelah ini? Ternyata…

Leksa, sang pahlawan! Ia dengan gagah berani rela berkorban jiwa dan raganya untuk turun mengambil mantel hujan dan kantong plastik berisi gorengan. Mengingatkan pada kegagahan Achilles dan Lu Bu Fengxian yang maju sendirian dalam perang! :cool:

Satu paragraf di atas dipersembahkan kepada Leksa, atas kerelaan hatinya untuk turun naik tangga demi kepentingan mayoritas. Ditambah lagi ia naik dengan membawa kopi panas yang dibelinya di warung di bawah sana. Hehehee… :mrgreen:

Kami pun dalam dingin, menunggu matahari terbit. Tak bisa dilukiskan dengan kata-kata, bagaimana kami menyaksikan fenomena alam yang luar biasa di atas sana. Tak bisa dilukiskan dengan kata-kata juga, bagaimana kami menyaksikan pemandangan menakjubkan di atas sana. Takjub! Dahsyat! Selengkapnya lihat saja tulisan tiga peserta tur lainnya. aku tak sanggup.

Ah, di puncak sana kami sempat berfoto-foto sambil melakukan ulah gila dan aneh-aneh. Misalnya Zam yang hampir bugil, hanya memakai celana kolor saja. Ini buktinya! Lagi-lagi Zam bahagia, di puncak begini pun dia bisa menemukan arca Shiwa (??). :lol:

Pagi hari, sekitar jam 8 atau 9, kami menikmati sarapan pagi berupa Indomie rebus, wajarlah makanan pokok mahasiswa. Setelah itu perjalanan dilanjutkan ke Sendang Sono, sebuah kompleks ziarah umat Katholik yang sarat cerita, keindahan dan ketenangan. Kompleks yang luar biasa! 8O

Setelah cukup puas melakukan tur kopdar, tur spiritual dan tur rohani, kami pun pulang kembali ke Jogjakarta tercinta.

Sekali lagi, kumohon di sini tidak ada ucapan selamat datang kembali bagiku, atau sebangsanya. Jika tetap dilakukan, ya kuanggap itu hasil fast-reading belaka. Hati-hati ya.

Sekadar informasi mengenai lokasi tur kami berempat:


Band of Ndoyokers, rencana kover album mereka yang pertama

Dan berikut ini pembelaan diri kesaksian dari peserta tur dalam kotak komentar:

Kesaksian Gun: “Wuihh!! Ada homok bilang homok! :lol:

Kesaksian Antok: “yang nyebut homok itu iri aja ama kita. mereka tidak tau apa yang kita berempat bicarakan dan imajinasikan di puncak suroloyo. bahwa orientasi seks kami tetaplah ke lawan jenis, mengingat saat di puncak suroloyo kita malah mengimajinasikan deretan bintang JAV turut serta menemani kami dan menyelesaikan satu episode spesial akhir tahun.”

Kesaksian Leksa: “yang ngomong homok2 diatas,.. :evil: ngadep ke akuw dulu.. :evil: buktikan sapa yang jantan tulen di blog ku,.. :evil: terutama para wanita.. hyahahahah… :D

Sekadar catatan, aku, Antok, Zam, dan Leksa melakukan acara kegiatan kopdar selama kurang-lebih 14 jam non-stop. Pada pukul 1 pagi, perjalanan menuju puncak kurang-lebih 100 km, dengan jalan tanjakan dan turunan 50%nya kemiringan 45 derajat, dan akhirnya berhasil mencapai ketinggian 1.100 m dari permukaan air laut. Belum lagi 286 anak tangga keparat. :lol:

Tulisan terkait oleh para peserta tur:

…dan apakah aku kembali terlelap?

God Bless! Alhamdulillah!

Fotografer: Abu Zam dan Antokbilang
Edit Foto: Antokbilang

 

Pindah ke: GunawanRudy.COM, sila klik di sini!