Episode sebelumnya: Trik Jitu Sejuta Pengunjung dan Komentar
.
.
.
Ini sebenarnya tidak bisa disebut sekuel. Hanya konfirmasi saja.
Sebelum membaca, disarankan untuk melihat bagian pertamanya terlebih dahulu. Klik ini…
Mengutip tulisan 049 mengenai bahan acuan.
***
By 049 @ Desember 25, 2007 12:18 pm
Hiperbola
Suatu pernyataan yang dilebih lebihkan untuk memberikan kesan tertentu. Contoh: Air mata membanjiri wajahnya
Ironi
Cara pengungkapan maksud dengan pengungkapan kebalikan dari apa yang sebenarnya terjadi. Ironi bertujuan untuk menyindir lawan. Contoh: Lho? Kamu ini, baru pukul 12 siang baru saja bangun!
Satir
Silakan baca sendiri di sini
Bahan acuan lain bisa diliat di sini. Atau silakan menghabiskan waktu menjelajahi Wikipedia dan sejenisnya. Semoga tulisan ini bisa sedikit memberikan penjelasan terhadap tulisan saya sebelumnya tentang doraemon.
***
Semacam itulah saya menulis mengenai Trik Jitu Sejuta Pengunjung dan Komentar.
Sekali lagi silahkan melihat tulisan ini.
Apa? Masih belum mengerti? Klik ini dong…
Jadi…
.
.
.
…saya sebenarnya menyindir.
Sekian dan terima kasih.
Pindah ke: GunawanRudy.COM, sila klik di sini!
cK 19:30 on 01.05.2008 Permalink |
saya sih mengerti. mungkin masih banyak pembaca yang tidak mengerti tulisan satir.. ^^
aRuL 19:31 on 01.05.2008 Permalink |
o maksudnya ini memperjelas gitu yah?
aRuL 19:32 on 01.05.2008 Permalink |
bagi saya satir boleh2 saja tapi dengan komposisi benar, tidak menjatuhkan tapi untuk membangunkan.
aRuL 19:34 on 01.05.2008 Permalink |
linknya 49 itu salah kayaknya
alex 19:38 on 01.05.2008 Permalink |
Hiperbola itu bukannya tulisan tentang Bola yang kebanyakan?
*ditimpuk*
Pyrrho 19:42 on 01.05.2008 Permalink |
saya punya praduga bersalah nih…
kecurigaan saya, waktu rozenesia nulis tulisan satir, sebenarnya dia sedang tertawa terbahak-bahak dibelakang layar, sambil membayangkan berapa banyak orang lagi yang akan “terpesona” dan “tertipu” sambil kebingungan mengartikannya.
adhominem…adhominem….
*buset dah, gara-gara tulisan satir itu, kok jadi banyak yang belajar satir
mobilya ?*Nih, ada peringatan dari mas Amed disini :
Pyrrho 19:43 on 01.05.2008 Permalink |
nah lo…..
Sawali Tuhusetya 19:44 on 01.05.2008 Permalink |
walah, saya kena sindiran juga nih mas roze. di blog ini ternyata ada macem2 majasnya juga, yak *halah*
Xaliber von Reginhild 19:54 on 01.05.2008 Permalink |
Saya sendiri, jujur saya, waktu pertama kali masuk ke dunia WordPress (dengan lebih serius), belum mengenal apa tulisan satir itu.
Barulah setelah baca-baca di Wikipe, saya mengerti apa maksud dari “satir”.
Mungkin begitu juga dengan yang lainnya.
StreetPunk 21:03 on 01.05.2008 Permalink |
Yak, salut atas kejujurannya.
Betapa herannya saya melihat sebagian pembaca yang tidak tanggap dalam memahami situasi pada postingan trik jitu sebelumnya. Untungnya postingan ini muncul tepat waktu. Tapi bagaimanapun, sisi positif yang bisa diambil dari postingan sebelumnya yaitu ekspresi ketidaksenangan Anda terhadap fast-reader.
Anyway, saya kok jadi teringat kembali tentang fenomena botd yang terjadi belakangan ini, yaitu blogger yang meminta maaf setelah menipu pembaca atas konten yang berbau pornografi?
rozenesia 21:36 on 01.05.2008 Permalink |
@ cK: Yah, sekadar konfirmasi eksperimen satir kemaren aja.
@ aRuL [1]: Iya, agar ga kejebak.
@ aRuL [2]: Yang sulit itu menilai kadanrnya itu, udah dibahas di Y!M tadi kan?
@ aRuL [3]: Fixed, thanks.
@ alex: Ente wartawan BOLA yah?
@ Pyrrho [1]: Lha? Lha? Ini nggak ditujukan buat semuanya kok.


Hohohoo… Dan saya miris melihat hasilnya tadi, makanya rilis ini.
Ckckckkk… Belajar! Belajar!
Lha bukan kebiasaan to’?
Kan belajar… *ngeles*
Ndak kok, sebenarnya cuman pengen ngasih warna aja ke variasi tulisan. Supaya ndak terjebak dalam satu style. Lagipula saya ndak keukeuh pada satu style lah.
@ Pyrrho [2]: Lha bukan kebiasaan to’?
@ Sawali Tuhusetya: Lah masa kena sih pak? Kena gimana nih?
@ Xaliber von Reginhild: Udah sering denger dulu, kebetulan pecinta sastra yang ga mahir sastra. Tapi ga gitu diperhatiin sama saya dulu. Masuk WP, baru perhatiin.
@ StreetPunk: Lha saya ndak jujur kok apalgi meminta maaf kok.
Ini kan tulisan konfirmasi, dan emang berseri untuk mencegah hal-hal yang ga diinginkan.
Saya nggak semuanya ga senang sama fast-reader. Saya malasnya melihat yang nitip komen saja, berlalu begitu saja. Sekadar buka blog orang, komen tanpa membaca apalagi tahu isi tulisan.
Cynanthia 22:00 on 01.05.2008 Permalink |
Yaa, yaa…. tampaknya saya paham sekarang
StreetPunk 22:13 on 01.05.2008 Permalink |
Maksudnya jujur itu, yang ada kata-kata ‘jadi…saya sebenarnya menyindir. Sekian dan terima kasih’. Itu kan pengakuan jujur.
Lha? Minta maaf? Ya enggak dong memang nggak perlu minta maaf lagi, yang saya bilang teringat itu maksudnya keadaannya mirip aja dengan yang saya sebutkan tadi.
Fast-reader yang menitip komen dan berlalu begitu saja mungkin dia nggak tau mau komen apa pada suatu tulisan karena mungkin tulisan tersebut terlalu berat baginya atau dia mungkin memiliki pengetahuan yang terbatas mengenai topik yang diperbincangkan namun dia memaksakan juga untuk komen sehingga terkesan fast-read
rozenesia 22:26 on 01.05.2008 Permalink |
@ Cynanthia: Amin.
@ StreetPunk:
Mengutip kembali komentar feedback saya~ di entry sebelumnya.
…dan…
Lemon S. Sile 22:45 on 01.05.2008 Permalink |
…istilah drama semua… meskipun kenalnya dari sastra juga…
all time favorite sih….sarkas, gampang.
haha…
ini apa hubungannya sama episode 1? *kayak nanya Star Wars aja*
(kabur sebelum ditimpuk)
StreetPunk 22:57 on 01.05.2008 Permalink |
PunkStreet?*ga penting*
Yah…yang penting sang empunya blog mesti belajar untuk bersabar, nggak usah terlalu diambil hati apalagi sampe sakit hati. Mungkin si pengkomentar jarang berkunjung ke blog tersebut jadi dia belum tau betul tentang sang empunya blog.
Saya aja sampe saat ini kalo ada komen ngasal saya tanggapi dengan sewajarnya dan tetap berusaha untuk menghargainya. Toh masih banyak komen-komen lain yang bermutu.
rozenesia 23:04 on 01.05.2008 Permalink |
@ Lemon S. SIle: Halaaahh… Halaahhh… Ini episode konfirmasi ndan penegasan aja kok.
@ StreetPunk: Sorry, kebalik ngetik..ngantuk berattt…
Heheheee.. Sama here. Saya selalu menanggapi tiap komentar yang masuk, lihat saja sendiri. Nggak satupun dibiarkan lepas. Bahkan pakai [1], [2], sampai [5]… segala…
Makanya, yang terpenting itu ya “tau diri” di rumah orang.
StreetPunk 23:30 on 01.05.2008 Permalink |
Yang terpenting “tau diri” di rumah orang, setuju banget tuh, tapi kayaknya kata-katanya sungguh ‘mengena’ terhadap komentator yangnggaktaudiri tersebut, ya? Di sini pernah terjadi ya?
rozenesia 23:56 on 01.05.2008 Permalink |
@ StreetPunk: Gini sebenarnya… Manusia tuh kecenderuangnnya ingin dihormati, tapi bagaimana bisa dihormati tanpa menghormati orang lain? Ini siklusnya.
Kayak mas Guh bilang di entry sebelumnya.
Gitu aja maksud saya.
Jadi gimana kita itu bisa “tau diri” dulu lah di blog (rumah maya) orang.
Pernah kejadian atau ga, ya itu kan berbeda di persepsi tiap orang. Bisa aja saya nganggap ini komentar ga tau diri, tapi orang yang berkomentar itu ga ngaggap gitu (ya iya lah!! namanya kan emang ga “tau diri”)
Ga perlu lah dibahas pernah kejadian atau ga, di mana, kapan, atau siapa. Bikin misuh aja. Jadi ya intinya ingin menyadarkan sesama termasuk diri saya sendiri.
Tau dirinya pake ” dan ” lho.
StreetPunk 00:13 on 01.06.2008 Permalink |
Pembahasan yang menarik ya. Mudah-mudahan dapat menyadarkan semua agar dapat berkomentar serius terhadap postingan serius..
..setidaknya meminimalisir ketidakseriusan
rozenesia 00:18 on 01.06.2008 Permalink |
@ StreetPunk: Postingan serius kadang bisa diselipkan guyonan kok, semuanya ya tergantung dari empunya blog itu juga, juga nyesuain kondisi dan situasi. Semisal belum kenal ya kita harus hati-hati dan tau diri di depan tuan rumah.
StreetPunk 00:25 on 01.06.2008 Permalink |
Postinganmu yang mengenai panggilan cina, china, chinese, atau tionghoa tuh kayaknya bener-bener serius ya
rozenesia 00:27 on 01.06.2008 Permalink |
@ StreetPunk: Saya mau bawa serius.
…asal ndak misuh.
danalingga gi fakir bandwith 00:39 on 01.06.2008 Permalink |
Karena menyindiru itulah makanya saya merasa tertipu judul kemaren. Wong saya mo nerapin , eh dah di sindir duluan.
rozenesia 00:51 on 01.06.2008 Permalink |
@ danalingga gi fakir bandwith: Wakakaaa… Kadang satir harus sampai judul lho.
Maaf deh, maaf…
dimasu 02:40 on 01.06.2008 Permalink |
memang, trik paling jitu menyadarkan “kekurangan” orang lain adalah menggunakan satir..
btw, itu Sumi Yang nya cakep ^^
*ikutan jadi fans*
kalo yang ini trik jitu dalam berkomentar di blog orang: gunakan Sumi Yang sebagai avatar. dan hasilnya, komen anda pun pasti dibaca oleh pengunjung lainnya. no fast reading pada komen anda. cerdik sekali:)
rozenesia 02:49 on 01.06.2008 Permalink |
@ dimasu: Aseli komen mas selalu bikin ngakak!
Ta’ cantolin blogroll ah~
SUMI YANG is minee!!
*niat buat galeri foto Sumi Yang*
Bener juga, orang kejebakimaji pada avatar yah…
Satir itu biasanya yang nyadar ya yang dituju. Tapiiii… Itu kadang sulit juga tergantung kepribadianyang dituju itu.